
NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di bawah kolong jembatan dan trotoar Pasar Asemka hingga Glodok, Jakarta Barat, warna-warni kembang api dan deretan terompet mulai berjajar. Namun, keriuhan visual itu tak sebanding dengan denting mesin hitung para pedagang. Menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026, denyut nadi perdagangan aksesori tahun baru justru terasa melambat dan cenderung lesu.
Kebijakan pemerintah yang membatasi hingga melarang pesta kembang api di ruang publik ditengarai menjadi faktor utama di balik sepinya pesanan, terutama untuk jenis kembang api berskala besar.
Asep, seorang pedagang petasan di Pasar Asemka, hanya bisa menatap tumpukan kembang api bernilai jutaan rupiah di lapaknya. Biasanya, menjelang akhir Desember, ia sibuk melayani pesanan untuk acara-acara besar di Ibu Kota. Kini, stok kembang api berkapasitas besar miliknya masih tertahan.
“Iya, acara-acara event-event kayak di JCC, PRJ. Untuk sekarang-sekarang, belum (ada yang pesan),” ucap Asep saat ditemui di lapaknya, Jumat (26/12).
Asep yang sehari-harinya berjualan kaus kaki dan handuk ini mengakui bahwa regulasi pemerintah sangat memengaruhi periuk nasinya saat momen musiman ini. Di lapaknya, harga kembang api bervariasi dari belasan ribu hingga Rp 4 juta per unit.
“Wah jelas (larangan pemerintah) itu ngaruh. Harga bervariasi, dari mulai yang Rp 15.000 sampai yang paling besar di atas Rp 1 juta. Itu yang besar-besar, yang di atas Rp 600.000 ke atas,” jelas Asep.
Meskipun omzetnya saat ini belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan, Asep memilih tetap optimis. “(Penjualan) pasang surut, kadang. Untuk hari ini belum kelihatan sih. Ya berdoa saja. Yang terbaik, mudah-mudahan. Gak ada yang gak mungkin,” katanya.
Kondisi serupa dialami Alex, pedagang yang sudah lima tahun menekuni bisnis kembang api sebagai sumber penghasilan utama. Di tengah minimnya minat pembeli, Alex terkadang harus menelan pil pahit berupa kerugian tipis akibat sepinya konsumen.
“Ya kadang-kadang min (kurang), kadang-kadang ada. Sedikit lah, kebanyakan sih min (kurang) dikit doang. Rugi dikit doang. Karena konsumennya kurang,” ungkap Alex.
Ia kini menaruh harapan pada sisa hari menuju malam pergantian tahun. “Harapannya Sabtu-Minggu (sebelum pergantian tahun) besok mungkin,” tuturnya singkat.
Bergeser ke area Glodok, Alwi, penjual terompet dan bando lampu, juga merasakan penurunan antusiasme masyarakat. Jika pada tahun-tahun sebelumnya geliat pembeli sudah terasa sejak tanggal 20 Desember, tahun ini suasana terasa jauh berbeda.
“Biasanya kalau tahun kemarin dari tanggal 20 udah rame. Kalau sekarang belum terlalu rame, agak menurun. Beda sama tahun kemarin,” ujar Alwi yang sudah berjualan sejak 2017.
Alwi pun sudah memiliki strategi mitigasi jika dagangannya tidak ludes hingga malam pergantian tahun nanti. Ia akan menyimpan barang tersebut dan memodifikasinya untuk dijual kembali di tahun mendatang.
“(Kalau tidak laku) buat tahun depan. Ini paling diganti-ganti, kayak boneka-bonekanya ditarik, pasang-pasang boneka kayak gini. Ini dulunya bekas 2025, ini diganti,” jelas Alwi merujuk pada pembaruan angka tahun pada aksesorinya.
Meskipun gemuruh kembang api mungkin akan berkurang di langit Jakarta tahun ini, harapan para pedagang di pinggir jalan ini tetap sama: sebuah keberuntungan di menit-menit terakhir sebelum kalender berganti.***
Editor : Alysa
Sumber : kumparan.com













