Wabah Flu Meningkat Drastis, Rumah Sakit di Amerika Mulai Sesak dan Peringatan Keras Dikeluarkan

0
Amerika
Ilustrasi seorang perempuan memakai masker. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Di tengah sisa kemeriahan pesta kembang api dan reuni keluarga, jutaan warga Amerika Serikat kini harus berhadapan dengan realitas pahit musim dingin. Gelombang influenza kini menyapu hampir seluruh negara bagian dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, dipicu oleh mobilitas tinggi selama libur akhir tahun yang baru saja usai.

Data terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) mengungkapkan potret buram kesehatan masyarakat: sejak musim flu dimulai, tercatat sedikitnya 7,5 juta kasus, 81.000 rawat inap, dan 3.100 nyawa telah melayang.

Musim kali ini terasa berbeda. Para ahli menyoroti betapa agresifnya virus influenza A(H3N2) subklade K yang kini mendominasi hampir 90 persen sampel genetik di laboratorium.

Andrew Pekosz, ahli virologi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, mengungkapkan bahwa kecepatan penularan menjadi alarm utama bagi fasilitas kesehatan.

Baca Juga :  5 Langkah Persiapan Anak Memasuki Tahun Ajaran Baru Setelah Libur Lebaran

“Salah satu hal yang mengkhawatirkan musim flu tahun ini adalah kecepatan penyebaran virus setelah memasuki suatu negara bagian atau wilayah tertentu,” ujar Pekosz.

Analisis genetik menunjukkan virus tersebut telah bermutasi, sebuah taktik evolusi yang memungkinkannya meloloskan diri dari benteng kekebalan yang selama ini dimiliki masyarakat.

Dampak nyata dari mutasi ini terlihat di bangsal-bangsal rumah sakit. Pada pekan yang berakhir 20 Desember 2025, jumlah pasien flu yang dirawat melonjak drastis menjadi 19.000 orang naik hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.

Tragedi ini juga menyasar kelompok yang paling rentan. CDC melaporkan lima kematian anak dalam sepekan terakhir, membuat total kematian anak musim ini menjadi delapan jiwa.

Baca Juga :  Gorden Jendela: Tak Sekadar Hiasan, Punya Banyak Fungsi Penting di Rumah

Daniel Kuritzkes, dokter spesialis penyakit menular senior di Mass General Brigham, memberikan peringatan serius mengenai skala wabah ini.

“Musim flu kali ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, meski belum ada bukti bahwa tingkat keparahan per pasien lebih tinggi,” kata Kuritzkes.

Di tengah maraknya misinformasi dan rendahnya angka vaksinasi, para tenaga medis terus menyerukan pentingnya suntikan imunisasi. Meski virus telah bermutasi, vaksin tetap dianggap sebagai cara terbaik untuk mencegah gejala berat.

Eric Ascher, dokter keluarga di Lenox Hill Hospital, New York, mengakui adanya tantangan pada efektivitas vaksin terhadap varian baru ini.

Baca Juga :  Berjuang Melawan Kobaran Api, Anandito dan Anisa Rahma Selamatkan Barang Berharga dari Kebakaran Rumah

“Kami tahu vaksin bukan pasangan yang sempurna untuk strain ini karena virus flu telah sedikit bermutasi,” jelas Ascher. Namun, ia menekankan bahwa vaksinasi tetap krusial untuk memicu antibodi.

Hingga saat ini, 130 juta dosis vaksin telah didistribusikan. Namun, dengan interaksi sosial yang masih tinggi pasca-liburan, tanda-tanda perlambatan kasus belum terlihat.

Cameron Wolfe, Profesor dari Duke University, menambahkan perspektif mengenai perilaku masyarakat saat ini.

“Interaksi sosial selama liburan hampir pasti meningkatkan penularan, dan hingga kini belum terlihat tanda perlambatan pertumbuhan kasus,” tutur Wolfe.

CDC kembali mengimbau setiap warga berusia enam bulan ke atas untuk segera melakukan vaksinasi sebelum puncak gelombang berikutnya menghantam dalam beberapa pekan mendatang.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com