Ketegangan Meningkat! Denmark Peringatkan Bahaya Bubarnya NATO Jika AS Serang Greenland

0
NATO
Ilustrasi bendera nato dengan lantar langit biru. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, COPENHAGEN – Di tengah suhu beku kawasan Arktik, ketegangan politik antara sekutu lama memanas hingga ke titik didih. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengeluarkan peringatan yang mengguncang stabilitas Barat: Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terancam bubar jika Amerika Serikat nekat menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland.

Isu yang semula dianggap sekadar “fantasi properti” kini berubah menjadi krisis eksistensial bagi aliansi keamanan pasca-Perang Dunia II tersebut.

Pernyataan keras Frederiksen ini merupakan respons langsung atas ambisi Presiden AS Donald Trump yang kembali menyuarakan keinginan agar Greenland berada di bawah kendali Washington. Bagi Denmark, tindakan militer terhadap wilayah otonomnya bukan sekadar masalah sengketa lahan, melainkan pengkhianatan terhadap pakta pertahanan bersama.

Baca Juga :  Pemkot dan DPRD Kota Bogor Kompak Susun RPJMD dan Raperda, Wujudkan Kota Cerdas dan Sejahtera

“Jika Amerika Serikat memutuskan untuk menyerang negara NATO lain, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan oleh karena itu sistem keamanan pasca Perang Dunia II,” tegas Frederiksen dalam wawancaranya yang dikutip dari DW, Selasa (6/1/2026).

Ia menambahkan bahwa agresi antar sesama anggota aliansi hanya akan menghancurkan pondasi moral dan hukum militer yang telah menjaga perdamaian selama puluhan tahun.

Di Nuuk, ibu kota Greenland, Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen mencoba menenangkan rakyatnya di tengah bayang-bayang ancaman negara adidaya. Ia berupaya meredam kepanikan dengan menyatakan bahwa pencaplokan secara fisik adalah hal yang mustahil.

Baca Juga :  5 Tradisi dan Kebiasaan Warga Greenland untuk Bertahan di Suhu Minus 30

“Amerika Serikat tidak dapat menaklukkan Greenland. Itu tidak benar. Kita tidak boleh panik. Kita harus memulihkan kerja sama yang baik yang pernah kita miliki,” ujar Nielsen.

Meski demikian, kesabaran Nielsen tampaknya mulai menipis. Melalui unggahan di media sosialnya, ia mengirimkan pesan tegas kepada Trump untuk menghentikan retorika ekspansionisnya.

“Cukup sudah. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi sindiran, tidak ada lagi fantasi pencaplokan. Kami terbuka untuk dialog, tetapi harus melalui saluran yang tepat dan menghormati hukum internasional,” tulisnya.

Donald Trump, yang baru saja menunjukkan kekuatan militernya di Amerika Selatan dengan menggulingkan Nicolas Maduro, kini menolehkan pandangannya ke utara. Baginya, Greenland adalah potongan “puzzle” keamanan nasional AS yang hilang di tengah kepungan aktivitas militer Rusia dan China.

Baca Juga :  Pakar Hukum Yusril : Sengketa Pilpres bisa Dibawa ke MK

“Kita membutuhkan Greenland,” kata Trump singkat, merujuk pada kekayaan mineral, cadangan minyak, serta posisi strategis pulau terbesar di dunia itu sebagai jalur pelayaran masa depan.

Hingga saat ini, Amerika Serikat memang telah memiliki pangkalan militer di sana atas izin Denmark. Namun, dengan wacana pencaplokan ini, masa depan kerja sama tersebut kini berada di ujung tanduk, mempertaruhkan persatuan negara-negara Barat di tengah konstelasi politik dunia yang kian tidak menentu.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com