NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Dinginnya bulan November tidak hanya terasa pada suhu udara di Amerika Serikat, tetapi juga pada gairah pasar tenaga kerjanya. Laporan terbaru menunjukkan angka lowongan kerja merosot jauh lebih tajam dari perkiraan, menciptakan potret ekonomi yang mulai kehilangan tenaga dalam menciptakan lapangan kerja baru.
Berdasarkan laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dirilis Bureau of Labor Statistics (BLS) pada Rabu (7/1/2026), jumlah lowongan kerja merosot sebanyak 303.000 posisi menjadi 7,146 juta pada akhir November. Angka ini jauh di bawah ekspektasi para ekonom yang memprediksi level 7,60 juta.
Di balik meja-meja kantor dan lantai pabrik, aktivitas perekrutan pun tampak mendingin. Jumlah pekerja yang direkrut turun 253.000 posisi menjadi 5,115 juta. Fenomena ini menghadirkan kontradiksi tajam: ekonomi AS sejatinya tumbuh kuat pada kuartal III, namun pertumbuhan itu seolah enggan singgah ke sektor ketenagakerjaan.
Para analis menyebut situasi ini sebagai “jobless economic expansion” atau ekspansi ekonomi tanpa penciptaan lapangan kerja. Ada dua faktor utama yang membayangi keengganan pengusaha:
- Ketidakpastian Kebijakan: Kekhawatiran mengenai tarif impor membuat pelaku usaha memilih mode “menunggu dan melihat” (wait and see).
- Efisiensi Teknologi: Integrasi Kecerdasan Buatan (AI) mulai mengambil alih fungsi-fungsi pekerjaan tertentu, menekan kebutuhan akan tenaga kerja manusia secara struktural.
Bagi sebagian pengamat, kelesuan ini bukan sekadar fase musiman. “Sejumlah ekonom berpendapat bahwa pasar tenaga kerja AS kini menghadapi tantangan struktural, bukan sekadar pelemahan siklus ekonomi,” tulis laporan tersebut.
Kondisi ini diperparah dengan sisa-sisa kekacauan administratif. Tingkat pengangguran November yang mencapai 4,6% sempat terdistorsi oleh penutupan pemerintahan federal selama 43 hari. Bahkan, sejarah mencatat noktah hitam di bulan Oktober: data pengangguran tidak dipublikasikan untuk pertama kalinya sejak tahun 1948 karena terhambatnya pengumpulan data.
Kini, perhatian pelaku pasar tertuju sepenuhnya pada laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis Jumat mendatang. Meski tingkat pengangguran diproyeksikan sedikit melandai ke angka 4,5% di bulan Desember, bayang-bayang perlambatan tetap nyata.
Laporan BLS diperkirakan akan menunjukkan kenaikan tipis hanya 60.000 orang pada Desember, melambat dari tambahan 64.000 orang di bulan sebelumnya. Data ini akan menjadi kompas krusial bagi arah kebijakan moneter AS dalam menghadapi awal tahun 2026 yang penuh teka-teki.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














