Mengenal Cereulide dan Bacillus cereus di Balik Penarikan Susu Nestle di Puluhan Negara

0
Kontaminasi toksin dalam produk susu. Foto: Getty Images/Henadzi Pechan

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Penarikan sejumlah produk susu formula bayi oleh Nestle di 49 negara menjadi perhatian banyak orang tua. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian setelah ditemukannya dugaan kontaminasi cereulide, racun yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus, pada bahan baku tertentu.

Nestle menyebut keputusan penarikan dilakukan demi mengutamakan keamanan dan kesehatan bayi. Meski kasus ini tergolong jarang, potensi risiko dari cereulide membuat produk susu formula harus ditangani secara serius, mengingat bayi merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan kesehatan.

Baca Juga :  5 Akar Masalah Batuk Berkepanjangan yang Tidak Bisa Dianggap Remeh

Cereulide sendiri dikenal sebagai toksin yang dapat memicu mual dan muntah hebat dalam waktu singkat setelah dikonsumsi. Berbeda dengan bakteri hidup, racun ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah hilang meskipun produk telah melalui proses pemanasan atau sterilisasi. Inilah alasan mengapa dugaan kontaminasi cereulide tidak bisa dianggap sepele.

Sumber cereulide berasal dari Bacillus cereus, bakteri yang secara alami dapat ditemukan di lingkungan dan mampu bertahan dalam bentuk spora. Dalam kondisi tertentu, bakteri ini bisa menghasilkan racun, termasuk pada bahan pangan seperti minyak arachidonic acid yang digunakan sebagai tambahan nutrisi dalam susu formula bayi.

Baca Juga :  Rasakan Energi Positif! 5 Manfaat Sosial dan Psikologis Main Padel

Pada bayi, paparan cereulide berisiko menyebabkan muntah berulang yang dapat berujung pada dehidrasi dan gangguan keseimbangan cairan tubuh. Karena sistem pencernaan dan detoksifikasi bayi belum berkembang sempurna, dampak yang ditimbulkan bisa lebih berat dibandingkan orang dewasa.

Baca Juga :  Bayi Berisiko Muntah Darah? Nestle Cabut 800 Produk Susu dari Rak

Penarikan produk ini tidak selalu menandakan sudah terjadinya kasus kesehatan, melainkan merupakan langkah pencegahan sesuai standar keamanan pangan global. Para orang tua diimbau untuk memantau informasi resmi, memeriksa kode produksi susu yang digunakan, dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika bayi menunjukkan gejala tidak biasa setelah mengonsumsi susu formula. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : detikHealth