NARASITODAY.COM, HAVANA – Langit di atas Havana tampak mendung, namun suasana di dalam istana kepresidenan Kuba jauh lebih panas. Di tengah ancaman pemutusan total aliran energi dari Venezuela, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel berdiri tegak menghadapi tekanan dari Washington. Ia secara tegas menolak desakan Presiden AS Donald Trump yang meminta Kuba segera “membuat kesepakatan” atau menghadapi kehancuran ekonomi.
Bagi Díaz-Canel, kedaulatan Kuba bukanlah barang dagangan yang bisa ditawar di bawah ancaman. Melalui akun X resminya pada Minggu (11/1/2026), ia mengirimkan pesan balasan yang tajam. “Tidak ada yang mendikte apa yang kami lakukan,” tegasnya.
Ketegangan ini bermula saat Donald Trump, melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa era dukungan Venezuela terhadap Kuba telah berakhir pasca-operasi AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Trump mengklaim AS akan menguasai 30 juta hingga 50 juta barel minyak Venezuela, yang selama ini menjadi “napas” bagi ekonomi Kuba.
“Kuba, selama bertahun-tahun, hidup dari sejumlah besar minyak dan uang dari Venezuela. Sebagai imbalannya, Kuba menyediakan ‘layanan keamanan’ untuk dua diktator Venezuela terakhir, tetapi itu tidak akan terjadi lagi,” tulis Trump. Dengan gaya khasnya, ia menambahkan kalimat ancaman “TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG MASUK KE KUBA – NOL!”
Kuba tidak tinggal diam. Pemerintah Havana mencatat duka mendalam dengan tewasnya sedikitnya 32 warga mereka dalam “aksi pertempuran” selama operasi militer AS tersebut. Bagi Díaz-Canel, ini adalah luka lama yang kembali dibuka oleh hegemon utara.
“Kuba tidak menyerang; Kuba diserang oleh Amerika Serikat selama 66 tahun. Kuba tidak mengancam; Kuba bersiap membela Tanah Air hingga tetes darah terakhir,” kata Díaz-Canel sebagaimana dikutip dari CNN.
Ia juga menyindir tajam cara pandang Washington yang melihat segala hal sebagai transaksi. Bagi pemimpin Kuba ini, mereka yang “mengubah segalanya menjadi bisnis, bahkan nyawa manusia,” tidak memiliki otoritas moral untuk menghakimi negaranya.
Meskipun Trump sempat mengklaim di atas Air Force One bahwa AS “sedang berbicara dengan Kuba” terkait isu migrasi, Díaz-Canel membantah adanya dialog substantif. Ia menyebut kontak tersebut hanya teknis dan menuding balik bahwa arus migrasi warga Kuba ke AS adalah buah pahit dari blokade ekonomi Washington sendiri.
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez, turut mengecam tindakan AS yang ia sebut sebagai “hegemon kriminal dan tak terkendali”. Ia menegaskan bahwa Kuba memiliki hak mutlak untuk berdagang dengan mitra manapun tanpa intervensi.
Sebagai penutup, Díaz-Canel memberikan syarat jika Washington memang ingin berbicara serius. “Kami selalu bersedia berdialog secara serius dan bertanggung jawab dengan pemerintah Amerika Serikat, termasuk pemerintahan saat ini, atas dasar kesetaraan kedaulatan, saling menghormati, dan tanpa campur tangan dalam urusan internal,” pungkasnya.
Hingga kini, Havana tetap bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yaitu kegelapan tanpa energi, namun dengan kepala tetap tegak.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














