Pernyataan Kontroversial Trump Di Tengah Ketegangan di Selat Hormuz

0
Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Foto : bbc.com

NARASITODAY.COM, FLORIDA – Ketegangan di Selat Hormuz kini tidak hanya memanas di permukaan air, tetapi juga dalam retorika politik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memicu perdebatan global setelah secara terbuka membandingkan operasi militer Angkatan Laut AS di jalur pelayaran vital tersebut dengan praktik pembajakan.

Dalam sebuah rapat umum yang dipenuhi sorakan pendukung di Florida akhir pekan ini, Trump memberikan gambaran gamblang mengenai bagaimana militer AS mengeksekusi kebijakan blokade terhadap Iran.

Pengakuan Terbuka di Panggung Politik

Di hadapan massa, Trump menceritakan aksi penyitaan kapal milik Iran yang dilakukan oleh pasukan AS dengan nada yang provokatif. Ia menekankan keuntungan ekonomi yang didapat dari penyitaan aset-aset tersebut.

Baca Juga :  Raja Charles III Rencanakan Kunjungan Diplomatik ke Amerika Serikat untuk Perbaiki Hubungan Bilateral

“Kami … mendarat di atasnya dan kami mengambil alih kapal itu. Kami mengambil alih kargonya, mengambil alih minyaknya. Ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan,” ujar Trump, sebagaimana dilansir dari The Guardian.

Ia bahkan melontarkan analogi yang mengejutkan banyak pihak: “Kami seperti bajak laut. Kami memang agak seperti bajak laut. Tapi kami tidak sedang bermain-main,” tambahnya yang disambut riuh para pendukungnya.

Perang Blokade dan Krisis Energi Global

Pernyataan kontroversial ini muncul saat dunia sedang menyoroti aspek hukum dari konflik maritim yang kian meruncing. Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz urat nadi distribusi minyak dan gas dunia sejak kampanye serangan udara gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari lalu.

Baca Juga :  Dua Keluarga Mendiang Jenderal Soleimani Ditangkap di AS Setelah Status Tinggal Dicabut

Iran juga dilaporkan berencana mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintas, sebuah langkah yang dinilai ilegal oleh banyak pakar hukum internasional. Sebagai aksi balasan, Washington mengumumkan blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran setelah perundingan damai di Pakistan berakhir buntu.

US Central Command (CENTCOM) melaporkan hingga Jumat (1/5/2026), pihaknya telah mengalihkan 45 kapal untuk “memastikan kepatuhan” terhadap blokade tersebut.

Ketegangan Tanpa Batas Waktu

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menegaskan bahwa tekanan militer ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Ia menyebut blokade akan berlangsung “selama diperlukan.”

Baca Juga :  Gurihnya Ayam Goreng Serundeng: Resep Sederhana untuk Nikmat Maksimal!

Senada dengan hal tersebut, perwira militer tertinggi AS, Jenderal Dan Caine, menekankan bahwa tidak ada pengecualian dalam operasi ini. Kebijakan blokade tersebut menurutnya “berlaku untuk semua kapal, tanpa memandang kewarganegaraan, yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.”

Di sisi lain, Teheran tetap berdiri kokoh pada pendiriannya. Otoritas Iran menegaskan tidak akan melonggarkan cengkeraman mereka di Selat Hormuz selama pelabuhan-pelabuhan mereka masih dikepung oleh kekuatan militer Amerika Serikat.

Di tengah kebuntuan diplomasi ini, pernyataan “bajak laut” dari Gedung Putih kian mengaburkan batasan antara penegakan hukum internasional dan manuver militer yang agresif, meninggalkan pasar energi global dalam bayang-bayang ketidakpastian yang pekat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com