NARASITODAY.COM – Masalah tidur kerap menjadi keluhan umum pada kelompok lanjut usia (lansia). Banyak orang menganggap sulit tidur sebagai bagian alami dari proses penuaan, padahal gangguan tidur yang dibiarkan berlarut-larut dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental lansia, mulai dari penurunan daya ingat hingga meningkatnya risiko penyakit kronis.
Sayangnya, ada sejumlah “musuh tidur” yang sering terabaikan, baik oleh lansia sendiri maupun oleh keluarga. Berikut lima faktor utama yang paling sering mengganggu kualitas tidur lansia, beserta cara efektif untuk melawannya.
- Nyeri Kronis yang Dianggap Biasa
Nyeri sendi, punggung, atau otot sering dialami lansia dan kerap dianggap wajar. Padahal, rasa nyeri yang tidak tertangani dapat membuat lansia sulit terlelap atau sering terbangun di malam hari.
Cara melawan:
Pastikan nyeri ditangani dengan tepat, baik melalui pengobatan medis, fisioterapi, maupun perubahan gaya hidup. Posisi tidur yang ergonomis dan penggunaan kasur yang sesuai juga dapat membantu mengurangi rasa sakit.
- Pola Tidur Siang Berlebihan
Tidur siang memang bermanfaat, namun durasi yang terlalu lama atau dilakukan menjelang sore dapat mengacaukan jam biologis tubuh. Akibatnya, lansia kesulitan tidur di malam hari.
Cara melawan:
Batasi tidur siang maksimal 20–30 menit dan lakukan sebelum pukul 15.00. Dengan begitu, tubuh tetap merasa cukup lelah saat malam tiba.
- Konsumsi Obat-obatan Tertentu
Beberapa obat yang umum dikonsumsi lansia, seperti obat tekanan darah, diuretik, atau obat depresi, dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan tidur atau sering terbangun untuk buang air kecil.
Cara melawan:
Konsultasikan dengan dokter terkait waktu konsumsi obat atau kemungkinan penyesuaian dosis. Jangan menghentikan obat secara sepihak tanpa pengawasan medis.
- Kurangnya Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik yang minim membuat tubuh kurang “lelah” secara alami, sehingga sulit memasuki fase tidur nyenyak. Kurang bergerak juga dapat memperburuk kualitas tidur dalam jangka panjang.
Cara melawan:
Ajak lansia melakukan aktivitas ringan secara rutin, seperti jalan pagi, senam lansia, atau berkebun. Aktivitas fisik di siang hari membantu tubuh lebih siap beristirahat di malam hari.
- Kesepian dan Beban Psikologis
Rasa kesepian, cemas, atau stres sering kali tidak diungkapkan oleh lansia. Padahal, kondisi emosional sangat memengaruhi kualitas tidur dan dapat memicu insomnia.
Cara melawan:
Bangun komunikasi yang hangat dengan lansia. Libatkan mereka dalam aktivitas sosial, keluarga, atau komunitas. Jika perlu, dukungan psikolog atau konselor dapat membantu mengelola beban emosional yang mengganggu tidur.
Kesimpulan
Gangguan tidur pada lansia bukanlah hal sepele dan tidak selalu merupakan bagian tak terhindarkan dari penuaan. Dengan mengenali musuh-musuh tidur yang sering terabaikan serta menerapkan langkah pencegahan yang tepat, kualitas tidur lansia dapat ditingkatkan secara signifikan. Tidur yang cukup dan berkualitas menjadi kunci penting agar lansia tetap sehat, aktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














