NARASITODAY.COM, JAKARTA – Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mendadak menyalakan alarm peringatan bagi masyarakat internasional. Melalui sebuah pesan mendalam, tokoh yang dikenal sebagai juru damai ini membeberkan kecemasannya akan potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga yang ia nilai kian nyata di depan mata.
SBY memandang bahwa konstelasi geopolitik saat ini telah memasuki fase kritis yang menyerupai kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua.
“Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah,” tulis SBY dalam unggahan di platform X, Senin (19/1/2026). Namun, ia memberikan catatan kaki yang getir “Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit.”
Sentuhan feature terasa saat SBY membedah anatomi konflik global. Ia melihat adanya kemiripan pola antara situasi 1914 dan 1939 dengan tahun 2026. Munculnya pemimpin-pemimpin negara adidaya yang agresif, pembentukan aliansi militer yang saling berhadapan, hingga mobilisasi ekonomi untuk mesin perang menjadi indikator yang ia garis bawahi.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Dunia saat ini sedang diguncang agresi Amerika Serikat di Venezuela di bawah komando Donald Trump, ketegangan atas klaim Greenland, perang berkepanjangan Rusia-Ukraina, hingga agresi Israel yang tak kunjung padam di Palestina. Belum lagi potensi invasi China ke Taiwan yang terus membayangi kawasan Asia.
Jika perang nuklir benar-benar meletus, proyeksi studi menunjukkan angka kematian yang mengerikan: lebih dari 5 miliar jiwa manusia bisa melayang.
SBY juga menyoroti ironi di mana tanda-tanda kehancuran sudah terlihat jelas, namun tindakan pencegahan justru terlihat stagnan.
“Mengapa? Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya,” ujarnya retoris.
Menurutnya, sekadar merapal doa dan harapan tidak akan mengubah keadaan. Dibutuhkan kerja sama nyata dari komunitas internasional untuk menarik dunia dari tepi jurang kehancuran. “Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya,” imbuh SBY.
Sebagai langkah konkret, SBY menyarankan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil inisiatif darurat. Ia mendesak diselenggarakannya Emergency UN General Assembly untuk mengumpulkan para pemimpin dunia dalam satu meja perundingan guna membahas langkah pencegahan krisis skala besar.
SBY menyadari skeptisisme publik terhadap taji lembaga dunia tersebut saat ini. Namun, ia menegaskan bahwa diam bukanlah pilihan.
“Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing,” pungkas SBY dengan nada memperingatkan.
Pesan dari Cikeas ini kini menjadi refleksi bagi dunia apakah sejarah akan mencatat upaya penyelamatan ini, atau justru mencatat kelalaian yang berujung pada bencana global.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














