NARASITODAY.COM, JAKARTA – Ruang Rapat Komisi V DPR RI mendadak hening saat tabir kronologi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dibuka satu per satu. Di balik tragedi yang menelan korban jiwa di pegunungan Sulawesi Selatan tersebut, mencuat fakta mengejutkan mengenai kondisi teknis pesawat sebelum akhirnya hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026).
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, mengungkapkan adanya laporan awal yang menyebutkan bahwa pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut sempat mengalami anomali jalur penerbangan dan kendala teknis yang serius.
“Memang kalau kita melihat ya dari sisi teknis, tentu bukan kewenangan kami untuk menyampaikan ya, kenapa pesawat ini berbelok ke arah situ yang sebetulnya bukan jalurnya itu. Itu informasi awal yang kita terima, harusnya posisinya tidak kesana,” ujar Lasarus dalam Rapat Kerja di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Tak hanya soal navigasi, Lasarus juga membeberkan catatan kelayakan burung besi yang sedang dalam misi surveillance Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut.
“Kita juga mendapatkan informasi bahwa pesawat ini mengalami kerusakan mesin beberapa waktu sebelumnya. Ada beberapa informasi sudah kita kumpulkan dari kejadian ini, namun demikian tentu ini menjadi kewenangan dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi mohon ini nanti di investigasi secara menyeluruh,” tambahnya.
Detik-Detik Mencekam di Menara Pengawas Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang hadir dalam rapat tersebut memaparkan kronologi menegangkan saat petugas Air Traffic Control (ATC) Makassar berusaha memandu pesawat yang membawa 10 orang tersebut. Pada pukul 12.23 WITA, radar mengidentifikasi pesawat menyimpang dari jalur pendekatan Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin.
Instruksi koreksi sempat diberikan, namun langit Sulawesi Selatan memberikan jawaban lain.
“Kemudian komunikasi antara ATC dan pesawat terputus atau lost contact dan ATC segera mendeklarasikan fase darurat atau distress phase sesuai prosedur,” ungkap Dudy.
Medan Terjal 80 Derajat Sentuhan pilu mewarnai operasi pencarian di Gunung Bulusaraung. Tim SAR gabungan harus berhadapan dengan kemiringan ekstrem 70-80 derajat dan cuaca buruk yang seolah menyembunyikan puing pesawat di balik awan tebal.
Hingga laporan terakhir, dua jenazah telah ditemukan di tengah medan licin dan hujan yang menyulitkan 1.200 petugas di lapangan. Dudy menjelaskan bahwa kondisi di lokasi sangat menantang bagi tim rescuer.
“Dari pagi hingga sore itu cuacanya hujan dan itu sangat menyulitkan bagi tim penyelamat atau tim rescuer untuk melaksanakan pekerjaannya,” jelas Menhub mengenang kunjungannya ke lokasi pada Senin lalu.
Saat ini, kepingan demi kepingan badan pesawat mulai dikumpulkan di Lanud Hasanuddin untuk kepentingan penyelidikan. Fokus kini tertuju pada pencarian kotak hitam (black box) yang menjadi kunci jawaban atas spekulasi kerusakan mesin yang dilemparkan oleh DPR. Seluruh pihak kini menanti hasil investigasi KNKT untuk mengungkap mengapa pesawat yang seharusnya mengawasi perairan Indonesia itu justru berakhir di tebing sunyi Bulusaraung.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














