
NARASITODAY.COM, RIYADH – Selama puluhan tahun, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) tampil sebagai pilar kembar yang menjaga stabilitas Teluk. Namun, pemandangan harmoni itu kini memudar, berganti dengan kampanye media yang agresif dan manuver diplomatik yang saling mengunci. Perseteruan ini disebut-sebut sebagai yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir, mengancam status pusat keuangan Timur Tengah.
Ketegangan yang semula terpendam meledak ke permukaan setelah insiden di Yaman, di mana serangan udara Saudi menghentikan ofensif kelompok separatis dukungan UEA. Sejak itu, narasi “pengkhianatan” mulai menghiasi layar kaca dan lini masa media sosial.
Media pemerintah Saudi, Al-Ekhbariya TV, secara terbuka melontarkan tudingan pedas terhadap kebijakan luar negeri Abu Dhabi.
“Uni Emirat Arab disebut ‘berinvestasi dalam kekacauan dan mendukung kelompok separatis’ dari Libya hingga Yaman serta Tanduk Afrika,” demikian bunyi laporan Al-Ekhbariya TV pekan ini.
Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, melihat fenomena ini sebagai anomali dalam tradisi politik monarki Arab. Kepada AFP pada Minggu (25/1/2026), ia menyebut bahwa citra damai yang selama ini dijaga ketat kini telah retak.
“Kini titik-titik gesekan yang sudah lama ada, terbuka ke publik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Riyadh menyorot sangat terang masalahnya dengan kebijakan regional Abu Dhabi, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda,” kata Anna Jacobs.
Di sisi lain, Abu Dhabi memilih sikap yang lebih tenang namun penuh percaya diri. Profesor ilmu politik UEA, Abdulkhaleq Abdulla, menegaskan bahwa negaranya tidak berniat memancing keributan dengan tetangga besarnya.
“UEA tidak punya kebiasaan memprovokasi kakak besar kami. Kami telah menjadi, karena keberhasilan kami sendiri, sebuah panutan, sebuah kekuatan regional. Apakah itu salah kami? Kami tidak ingin memprovokasi Arab Saudi,” tegas Abdulla.
Kekecewaan Riyadh tampaknya sudah di tahap lanjut. Analis Saudi, Soliman Al-Okaily, menyebut ada perasaan dikhianati dalam kemitraan strategis ini. Ia bahkan memperingatkan bahwa Riyadh tidak akan segan menggunakan kekuatan ekonominya sebagai alat tekan.
“Riyadh bisa mengambil langkah-langkah ekonomi yang menyakitkan,” ujar Al-Okaily.
Sentuhan persaingan ini semakin nyata dalam manuver internasional. Pekan ini, Presiden UEA bertemu PM India Narendra Modi di New Delhi untuk membangun kemitraan pertahanan strategis. Langkah ini dibalas hampir seketika oleh Riyadh dengan meneken perjanjian pertahanan bersama Pakistan rival nuklir India.
Meski genderang perang kata-kata terus bertalu, Adam Baron dari New America menilai kedua negara masih menahan diri dari titik nadir.
“Meski serangan publik berlangsung ganas, masih ada jarak sebelum benar-benar terjadi perpecahan total. Ini menjadi sinyal pesan soal potensi menahan diri, tetapi juga menunjukkan kapasitas untuk eskalasi,” ungkap Baron.
Di pusat-pusat bisnis dari Riyadh hingga Dubai, para pelaku ekonomi kini mengamati dengan cemas: apakah ini hanya pertengkaran saudara sesaat, ataukah awal dari penataan ulang kekuatan di Timur Tengah?.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













