
NARASITODAY.COM, MAROS – Suasana di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, terasa lebih hidup pada Rabu (28/1/2026). Di tengah rimbunnya vegetasi karst dan suara gemuruh air terjun, Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni hadir untuk memastikan bahwa “Kerajaan Kupu-kupu” ini tidak hanya menjadi legenda, tetapi terus berkembang sebagai pusat ekowisata dunia.
Kunjungan ini bukan sekadar tinjauan formal. Raja Juli datang membawa kabar baik mengenai kesehatan ekosistem di kawasan konservasi tersebut. Dalam satu dekade terakhir, populasi penghuni sayap warna-warni di Bantimurung tercatat mengalami lonjakan yang signifikan.
Lonjakan Spesies di Jantung Karst
Keberhasilan konservasi di Bantimurung menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat lokal membuahkan hasil nyata. Raja Juli mencatat adanya peningkatan keragaman hayati yang luar biasa di kawasan ini.
“Betapa pentingnya makna dan arti Taman Nasional. Kingdom of Butterfly, kerajaan kupu-kupu. Dalam sepuluh tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah spesies kupu-kupu hingga 114 persen. Ini menandakan keberhasilan kolaborasi seluruh stakeholder dalam menjaga ekosistem penting ini,” ujar Raja Juli dalam keterangannya.
Keamanan Pengunjung Jadi Prioritas
Meski memuji keberhasilan konservasi, Menhut memberikan catatan kritis terkait infrastruktur. Ia menyoroti jalur wisata yang masih licin dan berlumut sebuah detail kecil yang menurutnya sangat krusial bagi keselamatan dan kenyamanan wisatawan yang ingin menikmati keajaiban alam Sulawesi.
Bagi Raja Juli, ekowisata yang ideal adalah pertemuan antara keamanan pengunjung dan kelestarian alam. Ia menegaskan bahwa komitmen pemerintah tidak akan berhenti pada angka-angka statistik, melainkan pada kualitas layanan di lapangan.
“Semua pihak bahu membahu, dan hasilnya bisa kita rasakan bersama. Menjaga ekosistem yang penting ini, sehingga meningkatkan jumlah spesies,” tambahnya.
Ritual Pelepasan Satwa
Sebagai simbol komitmen terhadap kelestarian hayati, kunjungan ini ditutup dengan aksi nyata di alam terbuka. Raja Juli melepasliarkan 11 ekor Burung Jalak Tunggir Merah, 32 ekor Burung Kacamata Kericau, serta 19 individu kupu-kupu dari berbagai jenis ke habitat aslinya.
Langkah ini mempertegas posisi Taman Nasional Bantimurung sebagai benteng terakhir bagi spesies-spesies endemik Sulawesi di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lahan. Melalui perbaikan infrastruktur dan penjagaan ekosistem yang ketat, pemerintah optimistis Bantimurung akan terus menjadi primadona wisata berbasis konservasi di masa depan.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













