NARASITODAY.COM, SHANGHAI – Suasana tenang yang biasanya menyelimuti ruang pamer (showroom) minimalis Ikea mendadak berubah menjadi medan laga. Menjelang penutupan tujuh gerainya di China pada awal Februari mendatang, peritel furnitur asal Swedia ini justru diwarnai aksi saling dorong dan adu mulut antar pengunjung yang berburu barang diskon.
Video yang viral di media sosial China memperlihatkan pemandangan kontras dengan estetika “Scandi” yang diusung Ikea. Para pembeli tertangkap kamera terlibat tarik-menarik furnitur, berebut troli belanja, hingga nekat mengambil barang pajangan langsung dari lantai ruang pamer demi mendapatkan harga miring.
Penyesuaian Strategi di Pasar Tiongkok
Kericuhan ini merupakan imbas dari pengumuman resmi perusahaan pada 7 Januari lalu melalui akun WeChat mereka. Ikea memutuskan untuk menutup tujuh tokonya secara serentak mulai 2 Februari 2026. Lokasi yang terdampak mencakup wilayah pinggiran Shanghai dan Guangzhou, serta kota-kota tingkat kedua seperti Nantong, Xuzhou, dan Harbin.
Pihak manajemen menegaskan bahwa langkah ini bukanlah tanda mundurnya mereka dari pasar China, melainkan sebuah reposisi bisnis.
“Penutupan ini merupakan bagian dari penyesuaian strategi kami di pasar China,” tulis Ikea dalam pernyataannya, seperti dikutip Channel News Asia (CNA), Kamis (29/1/2026).
Ikea kini beralih dari ekspansi fisik berskala besar menuju pertumbuhan yang lebih ramping dan digital. Perusahaan melaporkan akan lebih fokus pada pasar utama seperti Beijing dan Shenzhen, sembari memperkuat kanal penjualan online yang kian mendominasi perilaku belanja masyarakat setempat.
Antara Toko Kecil dan Kejayaan E-commerce
Meski menutup tujuh gerai besar, Ikea tetap optimistis dengan menjadwalkan pembukaan lebih dari 10 toko berukuran kecil dalam dua tahun ke depan.
“Gerai baru di Dongguan dan Beijing dijadwalkan mulai beroperasi pada paruh pertama 2026,” lanjut pernyataan tersebut.
Di jagat maya, video kericuhan tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan warganet China. Banyak yang menyayangkan perilaku agresif para pembeli di tengah kemudahan belanja daring yang sangat maju di negara tersebut.
Salah satu komentar yang menarik perhatian menyindir aksi rebutan furnitur tersebut sebagai hal yang sia-sia di era digital:
“Anda bisa membeli apa saja di Taobao dan Pinduoduo dengan pengiriman gratis,” tulis salah satu pengguna internet.
Fenomena ini menjadi potret nyata ketatnya persaingan ritel furnitur di China. Di saat ekonomi mengalami perlambatan, peritel raksasa seperti Ikea dipaksa untuk terus beradaptasi dengan konsumen yang kini lebih memilih mengeklik layar ponsel daripada harus mengantre apalagi sampai terlibat adu fisik di gerai fisik.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














