Tragedi Bocah SD di NTT Jadi Pengingat Pentingnya Perhatian pada Kesehatan Mental Anak Tag:

0
Surat terakhir bocah di NTT yang bunuh diri. (Foto: Istimewa)

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kabar duka dari Nusa Tenggara Timur beberapa hari terakhir mengundang keprihatinan publik. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia. Peristiwa ini dengan cepat menyebar di media sosial dan memantik diskusi luas tentang kondisi kesehatan jiwa anak di Indonesia.

Di balik tragedi tersebut, terungkap bahwa sang anak sempat menuliskan pesan terakhir untuk orang tuanya. Informasi yang beredar menyebutkan, tekanan ekonomi keluarga dan kebutuhan sekolah yang belum terpenuhi menjadi bagian dari situasi sulit yang dihadapinya.

Baca Juga :  Gaya Hidup Penyebab Asam Urat? Ini 5 Faktor yang Sering Diabaikan!

Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa anak usia 9–10 tahun sebenarnya sudah mengenal konsep kematian. Namun, kemampuan mereka untuk memahami dan mengelola emosi masih sangat terbatas. Dalam kondisi tertekan, anak kerap melihat masalah secara hitam-putih dan sulit memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Menurut dr Lahargo, tindakan bunuh diri pada anak bukanlah keinginan untuk mati, melainkan bentuk keputusasaan ketika anak tidak tahu lagi cara menghadapi beban hidup yang dirasakannya. Faktor risiko pun umumnya saling berkaitan, mulai dari kondisi individu, tekanan dalam keluarga, hingga pengaruh lingkungan seperti perundungan atau isolasi sosial.

Baca Juga :  Bangladesh Dilanda Krisis Kesehatan Akibat Wabah Dengue dan Chikungunya yang Meningkat Tajam

Ia juga menekankan pentingnya mengenali perubahan perilaku anak sebagai sinyal awal. Anak yang tiba-tiba menarik diri, mudah marah, sering murung, mengalami gangguan tidur, atau menunjukkan ucapan bernada putus asa perlu mendapatkan perhatian lebih dari orang dewasa di sekitarnya.

Kementerian Kesehatan mencatat, angka bunuh diri di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh, termasuk melalui peningkatan literasi kesehatan mental, deteksi dini di sekolah dan keluarga, serta akses layanan kesehatan jiwa yang lebih mudah dijangkau.

Baca Juga :  Child Grooming dan Mengapa Ia Sering Tak Terlihat: Catatan Sosiolog dan Psikolog UB

Tragedi ini menjadi alarm bagi banyak pihak bahwa kesehatan jiwa anak adalah tanggung jawab bersama. Kehadiran orang dewasa yang peduli, sistem pendukung yang responsif, serta lingkungan yang aman dan empatik sangat dibutuhkan agar anak tidak memikul beban hidupnya sendirian. (MG3)

Editor : Mutiara

Sumber : detikHealth