10 Negara di Mana Makan di Luar Justru Lebih Murah dari Masak Sendiri

0
Ilustrasi makanan. Foto: dok Pinterest

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Selama ini, memasak sendiri kerap dianggap sebagai cara paling ampuh untuk menghemat pengeluaran. Namun kenyataannya, anggapan itu tidak selalu berlaku di setiap negara.

Di sejumlah wilayah Asia, Afrika, hingga Amerika Latin, justru makan di luar rumah bisa lebih murah dibandingkan mengolah makanan sendiri.

Mengutip The Money, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor. Di negara-negara maju, biaya operasional restoran sangat tinggi—mulai dari sewa tempat, gaji karyawan, utilitas, pajak, hingga aturan yang ketat. Akibatnya, harga jual makanan bisa berkali-kali lipat dibandingkan harga bahan mentahnya.

Sebaliknya, di banyak negara berkembang, pedagang kaki lima dan rumah makan kecil beroperasi dengan biaya yang jauh lebih rendah. Mereka membeli bahan dalam jumlah besar, menyajikan menu terbatas dengan produksi tinggi, serta meminimalkan limbah. Budaya makan di luar yang sudah melekat juga membuat arus pelanggan stabil dan persaingan ketat, sehingga harga tetap terjangkau.

Baca Juga :  Menjelajahi 5 Pulau Eksotis di Asia dengan Hutan Mangrove yang Menakjubkan!

Sementara itu, harga bahan makanan di supermarket kerap relatif mahal karena dibeli dalam skala kecil oleh rumah tangga. Ditambah lagi biaya listrik, gas, dan pendingin yang membuat memasak di rumah tidak selalu ekonomis.

Berikut 10 negara di mana makan di luar dinilai lebih hemat dibandingkan memasak sendiri:

1. Thailand
Di Thailand, terutama di wilayah perkotaan, banyak hunian memiliki dapur kecil atau bahkan tanpa dapur karena makan di luar dianggap lebih praktis dan murah. Hidangan seperti pad thai bisa dibeli mulai sekitar US$0,30—lebih rendah dibandingkan membeli bahan sendiri di supermarket.

2. Vietnam
Makan di luar sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Vietnam. Bánh mì maupun semangkuk pho dapat dinikmati dengan harga di bawah US$1. Warung biasanya fokus pada beberapa menu saja, sehingga biaya produksi lebih efisien.

3. Taiwan
Warga Taiwan terbiasa menyantap makanan di luar setiap hari. Bento murah, mi, hingga jajanan pasar malam tersedia dengan harga bersahabat. Dengan bahan makanan yang relatif mahal, opsi ini kerap lebih masuk akal secara finansial.

Baca Juga :  Pertarungan Sengit Diprediksi di Semua Sektor, Indonesia Bertekad Lumat Thailand

4. Singapura
Meski tergolong negara maju, Singapura punya hawker centre yang disubsidi pemerintah dan diakui UNESCO. Seporsi nasi ayam Hainan bisa dibeli sekitar US$0,79, menjadikannya alternatif hemat dibandingkan memasak sendiri.

5. Filipina
Carinderia atau warung makan sederhana menjadi pilihan utama masyarakat Filipina. Hidangan utama bisa dihargai mulai sekitar US$0,17 karena dimasak dalam jumlah besar dan disajikan secara prasmanan.

6. Indonesia
Warung makan keluarga mudah ditemukan di berbagai daerah. Menu seperti nasi goreng atau nasi lengkap dengan lauk dapat dibeli sekitar US$1. Biaya operasional rendah dan tenaga keluarga membuat harga tetap terjangkau.

7. India
Kantin dan pedagang kaki lima di India menyediakan nasi, roti, dan kari dengan harga murah. Bahan dibeli dari pasar grosir dan menu dimasak dalam volume besar sepanjang hari, sehingga biaya per porsi rendah.

Baca Juga :  5 Pulau Eksotis di Australia yang Jadi Rumah Satwa Endemik, Ayo Berpetualang!

8. Nigeria
Di sejumlah kota Nigeria, pekerja lebih memilih makan di warung sekitar rumah. Menu seperti sup, kacang-kacangan, atau nasi jollof dijual dengan harga terjangkau. Tingginya biaya bahan bakar rumah tangga membuat memasak sendiri kurang ekonomis, terutama bagi yang tinggal sendiri.

9. Kolombia
Konsep corrientazo—paket makan siang lengkap dengan harga tetap—cukup populer. Dengan sekitar US$1, pelanggan sudah mendapat menu lengkap yang sering kali lebih murah dibandingkan membeli bahan terpisah.

10. Meksiko
Cocinas económicas dan penjual taco pinggir jalan menawarkan harga kompetitif. Taco bisa dijual sekitar US$0,60 per buah berkat pembelian bahan dalam jumlah besar dan biaya operasional yang rendah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebiasaan konsumsi sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan budaya setempat. Di beberapa negara tersebut, memasak di rumah belum tentu menjadi pilihan paling hemat. (MG5)

Editor : Nathania

Sumber : insertlive.com