NARASITODAY.COM, JAKARTA – Urusan singkong ternyata bisa bikin rapat serius. Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, terang-terangan menyebut mobil pikap 4×4 bukan sekadar gaya, tapi kebutuhan hidup-mati logistik pertanian.
“Dalam dunia pertanian, 4×4 itu menjadi kebutuhan. Medan di kebun tidak semuanya bisa dilalui kendaraan biasa,” ujar Joao dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (24/2/2026).
Menurutnya, kebun di Indonesia tak semuanya ramah untuk kendaraan 4×2 yang biasa wara-wiri di jalan aspal. Tanah becek, jalur bergelombang, hingga tanjakan dadakan membuat pikap 4×4 jadi “pahlawan tanpa tanda jasa” pengangkut hasil panen.
Joao mencontohkan singkong di Lampung. Satu hektare lahan bisa menghasilkan 30-40 ton. Masalahnya, biaya terbesar justru muncul saat panen hendak “dievakuasi” dari kebun ke jalan utama.
Bahkan, kata dia, ada petani yang sampai merakit kendaraan sendiri bermesin Dongfeng agar bisa masuk ke kebun.
“Petani pakai 4×2 karena harga 4×4 terlalu mahal, bukan karena itu yang paling cocok,” katanya.
Agar singkong dan kawan-kawannya tak lagi tertahan di tengah lumpur, Agrinas pun mengimpor 105.000 unit pikap dari India.
Sebanyak 35.000 unit Scorpio dipasok Mahindra & Mahindra, sedangkan 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas Yodha Pick Up dan truk Ultra T.7 masing-masing 35.000 unit.
CEO Divisi Otomotif Mahindra, Nalinikanth Gollagunta, menyambut kerja sama itu. Ia menyatakan siap mendukung program koperasi melalui kemitraan dengan Agrinas.
Namun, langkah impor ini tak luput dari sorotan. Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menilai industri otomotif dalam negeri sebenarnya sanggup memenuhi kebutuhan tersebut.
“Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri-industri pendukungnya mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Alhasil, di tengah kebun yang berlumpur dan industri otomotif yang lesu, polemik pun ikut melaju. Di satu sisi, 4×4 dianggap solusi agar hasil panen tak lagi tertahan di kebun.
Di sisi lain, muncul pertanyaan kenapa bukan produksi dalam negeri yang diajak tancap gas?
Yang jelas, bagi petani, urusannya sederhana asal panen sampai pasar tanpa drama dorong-dorongan di lumpur.
Editor : Andreas
Sumber : Berbagai sumber














