Bumi Iran Berduka, Ratusan Tewas dalam Badai Rudal

0
Iran
Ilustrasi bendera Iran. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Timur Tengah kian diselimuti asap dan duka. Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah memasuki fase paling mematikan, meninggalkan jejak darah yang menggenang di berbagai penjuru kawasan. Di balik deru jet tempur dan sirene perang, ratusan nyawa melayang, dengan Iran menjadi wilayah yang menanggung luka paling dalam.

Hingga Minggu (1/3/2026) waktu setempat, situasi di lapangan menggambarkan pemandangan yang mengiris hati. Sebanyak 201 orang dipastikan tewas dan 747 lainnya luka-luka di Iran, menjadikannya episentrum tragedi kemanusiaan. Palang Merah Iran melaporkan bahwa operasi penyelamatan masih berlangsung di tengah puing-puing.

Tragedi paling kelam terjadi di Minab, Iran tenggara, di mana seharusnya sebuah sekolah dasar putri menjadi tempat menimba ilmu, kini berubah menjadi lokasi kehilangan. Serangan yang menghantam sekolah tersebut menewaskan sedikitnya 148 orang.

Baca Juga :  Politik dan Kekuasaan Mengendalikan Kebijakan Nuklir Dan Mengapa Israel Dilindungi dan Iran Diserang

Nestapa juga melanda wilayah lain. Di Israel, serangan rudal balasan Iran merenggut 9 nyawa dan melukai 121 orang, termasuk akibat hantaman keras di Beit Shemesh dan Tel Aviv. Sementara itu, Komando Pusat AS mengonfirmasi keterlibatan militer mereka yang memakan korban jiwa.

“Operasi tempur utama terus berlanjut,” tulis Komando Pusat AS dalam pernyataannya, menandai bahwa akhir dari badai kekerasan ini belum terlihat. Tiga tentara AS tewas dan lima lainnya luka parah.

Korban juga merebak ke negara-negara tetangga seperti Uni Emirat Arab yang kehilangan 3 warganya, serta Kuwait yang melaporkan 1 orang tewas.

Tekanan Waktu dari Gedung Putih

Di tengah derap langkah militer, Presiden AS Donald Trump memberikan gambaran tentang durasi konflik yang menegangkan. Dalam wawancara dengan media Inggris Daily Mail pada Minggu, Trump memprediksi bahwa operasi militer raksasa ini akan berlangsung dalam jangka waktu yang relatif singkat, namun intens.

Baca Juga :  Tiga Bulan Perang Iran Kecemasan dan Amarah Mulai Membakar Publik Israel

“Ini selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu,” kata Trump kepada Daily Mail.

Ia menegaskan kepercayaan dirinya terhadap kekuatan militer AS, sembari mengecilkan arti kekuatan lawan.

“Sekuat apapun negara itu, ini adalah negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau bahkan kurang,” ujarnya.

Transisi Kekuasaan di Tengah Amukan

Di sisi lain, Iran berupaya berdiri tegak di tengah goncangan politik pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan di Teheran, Sabtu (28/2/2026). Untuk menjaga roda pemerintahan tetap berputar, Ayatollah Alireza Arafi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi sementara.

Arafi, yang dikenal sebagai sosok bersikap keras terhadap Washington dan pernah menyebut AS sebagai “pusat pelanggaran HAM,” kini memikul beban berat bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Gholamhossein Mohseni Ejei dalam Dewan Kepemimpinan sementara. Iran kini memasuki masa berkabung nasional 40 hari, menunggu keputusan Majelis Pakar menentukan pemimpin definitif yang baru.

Baca Juga :  Redam Efek Konflik Iran, Kebijakan WFH Sepekan Sekali Resmi Diperpanjang 2 Bulan

Suara Duka dari Islamabad

Tragedi kematian Khamenei tidak hanya mengguncang internal Iran, tetapi juga memantik reaksi tajam dari negara-negara Muslim. Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif, menyuarakan belasungkawa dan kecaman melalui platform X pada Minggu (1/3/2026).

“Rakyat Pakistan turut berduka cita bersama rakyat Iran di saat kesedihan dan duka cita mereka dan menyampaikan belasungkawa yang paling tulus atas kemartiran Ayatollah Ali Khamenei,” tulis Sharif, sebagaimana dikutip AFP.

Ia tidak hanya menyampaikan simpati, tetapi juga menyoroti sisi hukum internasional dari serangan tersebut.

“Pakistan juga menyatakan keprihatinan atas pelanggaran norma-norma hukum internasional,” tambahnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com