NARASITODAY.COM, JAKARTA – Buka puasa bersama di restoran All You Can Eat (AYCE) kerap jadi momen yang ditunggu saat Ramadan. Setelah seharian menahan lapar dan haus, berbagai pilihan menu terasa menggoda untuk langsung dicicipi dalam jumlah banyak.
Namun di balik keseruannya, pola makan berlebihan saat berbuka bisa memicu gangguan pencernaan, mulai dari rasa begah hingga risiko Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
Dari Begah ke Refluks Asam
Saat lambung yang kosong seharian tiba-tiba menerima asupan dalam jumlah besar—terutama makanan berlemak, pedas, dan manis—tekanan di dalam lambung meningkat. Kondisi ini dapat memperlambat pengosongan lambung dan memicu keluhan seperti:
-
Perut terasa penuh berlebihan
-
Mual
-
Nyeri atau rasa terbakar di ulu hati
-
Kembung
Keluhan tersebut sering disebut sebagai maag, padahal secara medis lebih tepat disebut dispepsia. Jika terjadi berulang dengan pola makan yang sama, risiko refluks asam pun meningkat.
Ketika tekanan dalam lambung tinggi, katup antara lambung dan kerongkongan bisa tidak menutup optimal. Akibatnya, asam lambung naik ke esofagus dan menimbulkan sensasi panas di dada (heartburn), yang menjadi gejala khas GERD.
Bukan Soal Tempatnya, Tapi Cara Makannya
Makan di restoran AYCE bukan berarti otomatis menyebabkan GERD. Yang lebih berpengaruh adalah pola dan tempo makan.
Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan saat bukber:
-
Awali dengan air putih dan porsi kecil makanan ringan
-
Beri jeda 5–10 menit sebelum mengambil makanan utama
-
Ambil makanan sedikit demi sedikit, bukan sekaligus banyak
-
Hindari langsung mengonsumsi makanan tinggi lemak dan pedas dalam jumlah besar
-
Makan perlahan agar tubuh sempat mengenali sinyal kenyang
Durasi makan di restoran AYCE umumnya 90–120 menit. Waktu tersebut sebenarnya cukup untuk menikmati hidangan tanpa harus terburu-buru di 20–30 menit pertama.
Nikmati Bukber Tanpa “Balas Dendam”
Keinginan untuk “balas dendam” setelah puasa memang wajar. Namun menjaga ritme makan tetap penting agar lambung tidak bekerja terlalu berat secara mendadak.
Dengan pola yang lebih terkontrol, risiko dispepsia bisa ditekan dan kemungkinan berkembang menjadi GERD pun lebih kecil. Ramadan tetap bisa dinikmati dengan nyaman, tanpa harus diakhiri rasa perih atau panas di dada. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














