NARASITODAY.COM, JAKARTA – Bulan suci Ramadhan kerap membawa napas baru bagi ritme kehidupan masyarakat, termasuk dalam pola konsumsi hiburan. Industri bioskop nasional kembali mencatat fenomena musiman yang tak terelakkan dan penyusutan drastis jumlah penonton, khususnya pada slot waktu siang hingga menjelang berbuka puasa atau yang akrab disebut ngabuburit.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI), Suprayitno, mengungkapkan bahwa situasi ini bukanlah kejutan, melainkan siklus tahunan yang telah lama dipahami pelaku usaha. Nuansa keagamaan yang kental dan pergeseran aktivitas masyarakat selama bulan puasa menjadi faktor utama perubahan peta kunjungan bioskop ini.
“Sebenarnya seperti biasa ya, setiap bulan Ramadhan okupansi pasti menurun. Itu sudah jadi pola tahunan,” ujar Suprayitno kepada CNBC Indonesia dikutip Kamis (4/3/2026).
Penurunan tersebut terbilang tajam dan signifikan, menciptakan kontras yang jelas dengan hari-hari biasa. Suprayitno memperkirakan, sepinya penonton membuat omzet atau kunjungan menurun drastis bahkan melewati batas separuh dari kondisi normal.
“Bisa 50% lebih turunnya kalau dibanding bulan biasa,” katanya.
Strategi Distributor dan Pergeseran Waktu Tonton
Keheningan di studio bioskop pada siang hari tak semata-mata disebabkan oleh kesibukan ibadah. Fenomena ini diperparah oleh strategi para distributor film yang cenderung menahan rilis film-film blockbuster mereka. Demi menghindari risiko kerugian akibat sepi penonton, banyak pemilik film yang memilih menunda perilisan judul besar hingga momentum Lebaran tiba.
Menurut Suprayitno, minimnya film unggulan di periode ini turut membuat daya tarik bioskop berkurang pada siang hingga sore hari. Namun, bisnis bioskop tidak lantas mati total. Pada malam harinya, layar lebar kembali menemakan vitalitasnya.
Pola konsumsi hiburan masyarakat ternyata tetap konsisten, baik di bulan puasa maupun di luar Ramadhan, di mana jam malam selalu menjadi primadona.
“Secara keseluruhan memang jam sore dan malam lebih ramai, mau Ramadhan atau tidak. Karena kalau jam awal itu kan jam kerja dan sekolah,” jelasnya.
Spesifik di bulan Ramadhan, lonjakan penonton justru terlihat pasca waktu berbuka puasa hingga usai shalat Tarawih. Sementara itu, jam ngabuburit yang biasanya diisi jalan-jalan, kini cenderung sepi karena bertepatan dengan jam kerja kantor dan sekolah yang masih berjalan.
Efisiensi Operasional
Menyikapi angka kos yang menganga di siang hari, para pengelola bioskop mengambil langkah pragmatis untuk menjaga keseimbangan keuangan. Tidak semua studio dibuka, sebagian sengaja ‘diistirahatkan’ sebagai bentuk efisiensi.
“Selain efisiensi, memang penontonnya juga berkurang. Jadi pengelola menyesuaikan jumlah layar yang beroperasi,” ujarnya.
Meski demikian, Suprayitno menegaskan bahwa citra bioskop sebagai tempat hiburan keluarga tidak pudar. Ia melihat bioskop tetap menjadi pilihan yang relevan karena dianggap aman dan nyaman untuk menghabiskan waktu malam di bulan suci.
“Di bulan Ramadhan ini, hiburan yang paling aman ya bioskop. Orang tetap antusias nonton, apalagi kalau filmnya menarik,” pungkasnya.***
Editor : Alysa














