NARASITODAY.COM, SEOUL – Menghadapi bayang-bayang kelangkaan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, Pemerintah Korea Selatan resmi memberlakukan kebijakan pengetatan konsumsi energi nasional. Mulai pekan ini, pemandangan mobil dinas yang terparkir rapi di instansi pemerintah akan menjadi hal biasa, seiring langkah Seoul memangkas penggunaan bahan bakar minyak (BBM) secara drastis.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, dalam rapat kabinet pada Selasa (24/3/2026), menegaskan bahwa prioritas negara saat ini adalah ketahanan nasional, bukan sekadar neraca keuangan.
“Saat ini, yang terpenting bukanlah penghematan keuangan pemerintah, tetapi penyaluran dana secara cepat dan efektif ke tempat yang paling dibutuhkan,” ujar Presiden Lee sebagaimana dikutip dari Reuters.
Dari Mandi Singkat Hingga Akhir Pekan Tanpa Mesin Cuci
Sentuhan efisiensi ini tidak hanya menyasar birokrasi, tetapi mulai merambah ke ruang keluarga warga Korea Selatan. Pemerintah telah merilis “12 Langkah Penghematan” yang unik namun mendesak. Warga diimbau untuk mandi lebih singkat, mengisi daya kendaraan listrik hanya pada siang hari, hingga menunda penggunaan alat rumah tangga berat seperti mesin cuci dan penyedot debu hingga akhir pekan.
Menteri Energi Kim Sung-whan menjelaskan bahwa saat ini pembatasan untuk sektor swasta masih bersifat sukarela. Namun, ia memberikan sinyal peringatan: “Kebijakan tersebut bisa diperketat jika status kewaspadaan energi meningkat.”
Menghidupkan Kembali Raksasa Nuklir
Sebagai langkah ekstrem di sisi pasokan, Seoul memutuskan untuk memutar haluan kebijakan energinya. Lima reaktor nuklir dijadwalkan kembali beroperasi mulai Mei mendatang. Langkah ini diambil untuk menekan ketergantungan pada gas alam cair (LNG) yang harganya kian melambung dan jalurnya terancam.
Pemerintah memprediksi strategi ini mampu menghemat hingga 14.000 ton LNG per hari setara dengan 20% dari total konsumsi harian nasional untuk pembangkit listrik.
Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah mengubah Selat Hormuz menjadi titik rawan. Bagi Korea Selatan, selat ini adalah “nadi kehidupan” karena 70% impor minyak mentahnya melintasi jalur tersebut.
Meski memiliki cadangan 190 juta barel, para analis memperingatkan bahwa stok tersebut hanya mampu bertahan kurang dari dua bulan jika gangguan distribusi terus berlanjut. Untuk membentengi ekonomi, pemerintah telah menyiapkan dana stimulus sebesar 25 triliun won (sekitar Rp295 triliun) serta mengamankan komitmen 24 juta barel minyak dari Uni Emirat Arab.
Sektor Industri Mulai Bergerak
Langkah pemerintah ini segera diikuti oleh raksasa industri seperti grup HD Hyundai. Mereka mulai menerapkan kampanye ramah energi secara mandiri, mulai dari pengurangan plastik hingga pemadaman lampu kantor yang tidak mendesak.
Korea Selatan kini sedang berkejuan dengan waktu. Di satu sisi mereka harus menjaga mesin ekonomi tetap berputar, namun di sisi lain, setiap tetes minyak kini menjadi sangat berharga di tengah ketidakpastian global.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














