NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik yang menyelimuti Timur Tengah, Pemerintah Indonesia bergerak cepat memastikan api di dapur masyarakat tetap menyala. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pasokan energi nasional, khususnya Liquefied Petroleum Gas (LPG), kini berada dalam posisi aman melalui strategi diversifikasi impor yang masif.
Langkah ini diambil untuk memutus ketergantungan pada satu kawasan, sekaligus membentengi ekonomi domestik dari fluktuasi harga energi dunia yang tak menentu.
Geser Kiblat Impor ke Amerika dan Australia
Pemerintah kini mulai melirik “benua baru” sebagai pemasok utama. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara baru-baru ini, Bahlil membeberkan bahwa porsi impor dari Timur Tengah telah dipangkas secara signifikan.
“Jadi total LPG kita dari 100% dari 7,6 juta impor itu 70% sampai 75% kita ambil dari Amerika. 20% dari Middle East, sisanya dari negara lain seperti Australia,” ungkap Bahlil.
Selain kontrak jangka panjang dengan Amerika Serikat, Australia juga menjadi pemain kunci. Bahlil memastikan tambahan dua kargo LPG dari Negeri Kanguru tersebut akan tiba pada akhir bulan ini, disusul pasokan lanjutan pada awal Maret guna menjamin ketersediaan stok hingga April 2026.
Pantauan Pasar: Harga Masih Stabil
Meski peta impor berubah drastis, pantauan di lapangan menunjukkan harga di tingkat konsumen masih cenderung stabil sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Di wilayah Tangerang Selatan, misalnya, tabung “melon” 3 kg masih dilepas seharga Rp 19.000 di tingkat pangkalan resmi. “(Harga LPG 3 kg) Rp 19.000,” ujar petugas di Pangkalan LPG Ayanih, Tangerang Selatan, Rabu (25/3/2026).
Namun, pemandangan sedikit berbeda terlihat di level pengecer atau sub-pangkalan. Di Toko Jejen, harga mencapai Rp 22.000 per tabung. “(LPG 3 kg) Rp 22.000,” kata penjaga toko tersebut, menjelaskan bahwa selisih harga tersebut sudah mencakup jasa pengantaran langsung ke pintu rumah pelanggan.
Daftar Harga Non-Subsidi Maret 2026
Bagi pengguna LPG non-subsidi (Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg), kabar baiknya adalah belum ada lonjakan harga sejak November 2023. Berikut adalah gambaran harga di tingkat agen resmi Pertamina untuk beberapa wilayah:
| Wilayah | Bright Gas 5,5 kg | LPG 12 kg |
| DKI Jakarta, Jawa, Bali, NTB | Rp 90.000 | Rp 192.000 |
| Sumatra, Sulawesi Selatan | Rp 94.000 | Rp 194.000 |
| Kalimantan, Sulawesi Utara | Rp 97.000 | Rp 202.000 |
| Papua, Maluku | Rp 117.000 | Rp 249.000 |
Dengan cadangan energi nasional yang berada di atas standar minimal, pemerintah optimistis transisi sumber impor ini tidak akan mengganggu distribusi. Fokus utama saat ini adalah memastikan efisiensi rantai pasok agar “napas” ekonomi masyarakat kecil tidak terengah-engah akibat tekanan geopolitik global.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














