
NARASITODAY.COM, BOGOR — Tradisi ziarah ke makam Mbah Kolot Pidin masih terus dilestarikan oleh warga Karanggan Bekasi dan Karanggan, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kegiatan yang telah berlangsung turun-temurun sejak abad ke-15 ini diperkirakan telah berusia hampir 500 tahun.
Tradisi tahunan tersebut digelar dengan semangat kebersamaan. Warga secara swadaya bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan, termasuk sarana dan prasarana penunjang demi kelancaran kegiatan.
Tokoh masyarakat yang juga Anggota DPRD Bekasi dari Fraksi PDI Perjuangan, Anim Imanudin, mengapresiasi partisipasi seluruh pihak dalam menjaga tradisi tersebut. Ia menyebut dukungan masyarakat menjadi kunci keberlangsungan kegiatan budaya itu.
“Kami mewakili warga Karanggan mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan semua pihak sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Camat Gunung Putri, Kurnia Indra, menegaskan bahwa tradisi ziarah ini merupakan bagian dari budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat Karanggan Tua dan Karanggan Muda. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi agenda rutin tahunan.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya melestarikan nilai budaya, tetapi juga mempererat silaturahmi antara warga Karanggan Bekasi dan Karanggan Gunung Putri, serta memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat.
Pemerintah Kecamatan Gunung Putri bersama Pemerintah Desa Karanggan menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian tradisi tersebut.
Kepala Desa Karanggan, Asdi, mengatakan pihaknya terus meningkatkan pelayanan bagi para peziarah dari tahun ke tahun. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari fasilitas penerangan, akses jalan, hingga penataan sarana UMKM.
“Kami berupaya memberikan pelayanan yang lebih baik agar para peziarah merasa nyaman,” katanya.
Tradisi ziarah Mbah Kolot Pidin tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.













