Program Makan Bergizi atau Program Menguntungkan? Ini Kata Pengamat

0
Pengamat sosial, politik, dan kebudayaan, Dindin Ra Dien. Foto : pribadi

NARASITODAY.COM, BOGOR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi bahan obrolan hangat. Bukan cuma soal rasa dan tampilan menu yang katanya minimalis, tapi juga soal hitung-hitungan yang bikin dahi berkerut atau malah tersenyum lebar bagi sebagian pihak.

Pengamat sosial, politik, dan kebudayaan, Dindin Ra Dien, membeberkan skema anggaran yang cukup menarik untuk dikulik.

Dari total Rp15.000 per porsi, sekitar Rp10.000 disebut-sebut untuk bahan baku makanan. Sisanya? Rp3.000 untuk operasional dan Rp2.000 diduga jadi bonus manis bagi yayasan dan pengelola dapur.

Baca Juga :  IWAPI bersama Pemkab Bogor Bagikan Seribu Paket Makanan Bergizi Gratis dalam Peringatan HUT IWAPI ke-50

Sekilas terlihat wajar. Tapi ketika angka itu dikalikan dengan ribuan penerima setiap hari, hitungannya mulai terasa “gurih”. Bisa-bisa, yang kenyang bukan cuma anak-anak, tapi juga laporan keuangan.

“Ini yang berbahaya. Ketika margin sudah pasti, tapi kualitas makanan tetap rendah, patut diduga orientasinya bukan lagi pelayanan, melainkan keuntungan,” ujar Dindin, Kamis (26/3/2026), dengan nada yang lebih serius daripada menu hari itu.

Baca Juga :  Simbol Keagungan Sunda, Mahkota Binokasih Dikirab dari Cibeureum ke Pura Agung Parahyangan

Menurutnya, kalau memang ada “cuan” di dalamnya, seharusnya kualitas juga ikut naik kelas.

Jangan sampai lauknya sederhana, tapi keuntungannya luar biasa.
Kondisi di lapangan pun memunculkan sejumlah keluhan.

Mulai dari menu yang dianggap kurang layak hingga penyajian yang jauh dari kata menggugah selera. Padahal, program ini digadang-gadang untuk meningkatkan gizi anak-anak.

Baca Juga :  Putusan MK Patahkan Isu Kotak Kosong, Kang AW : Lawan Politisi yang Anti Demokrasi

“Jangan sampai anak-anak dijadikan objek keuntungan. Ini soal masa depan generasi, bukan sekadar proyek anggaran,” ujarnya.

Di tengah polemik ini, publik pun mulai bertanya-tanya. apakah yang lebih diutamakan gizi anak, atau gizi dompet? Yang jelas, kalau programnya bernama makan bergizi, harapannya bukan cuma angka di atas kertas yang sehattapi juga isi piringnya.