
NARASITODAY.COM, BOGOR — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, menuai kritik setelah beredarnya video paket makanan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Temuan tersebut memicu sorotan tajam terhadap kualitas distribusi program yang seharusnya menjamin asupan gizi bagi siswa.
Dalam video yang beredar, terlihat telur matang dalam kondisi pecah serta buah naga yang hancur.
Kondisi ini dinilai tidak memenuhi standar kelayakan makanan, terlebih paket tersebut didistribusikan untuk konsumsi hingga tiga hari.
Temuan di lapangan pada Kamis (12/3/2026) menunjukkan kekecewaan warga penerima manfaat di Desa Jasinga.
Mereka menilai kualitas makanan yang diterima jauh dari harapan dan berpotensi mengganggu kesehatan.
Perwakilan Yayasan Tama mengakui adanya persoalan dalam distribusi. Namun, ia menegaskan kerusakan makanan bukan berasal dari menu yang disiapkan.
“Tidak ada yang salah dengan menu, ini murni kesalahan distribusi. Bahkan menu sudah diganti ke pihak sekolah,” ujarnya, Kamis (26/3/2026).
Meski demikian, pernyataan tersebut belum mampu meredam kritik publik. Dugaan keterlibatan dapur MBG Babakan di Desa Jasinga serta lemahnya kontrol kualitas justru memperkuat kekhawatiran terkait pengawasan program.
Pengelola mengklaim telah membentuk grup komunikasi dengan 14 sekolah sebagai wadah penyampaian keluhan.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan persoalan distribusi dan kualitas makanan masih terjadi.
Sorotan juga mengarah pada minimnya transparansi anggaran. Paket makanan yang dibagikan tidak disertai rincian harga komoditas, memunculkan tanda tanya terkait pengelolaan dana program.
Alasan bahwa data masih menunggu penyusunan dari ahli gizi dinilai belum cukup menjawab tuntutan keterbukaan.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala SPPG Babakan M. Thaifur dan pihak terkait lainnya belum memberikan tanggapan resmi.
Program MBG sejatinya dirancang sebagai solusi pemenuhan gizi bagi pelajar. Namun, temuan di Jasinga menunjukkan perlunya evaluasi serius, terutama dalam aspek distribusi, pengawasan, dan transparansi agar tujuan program tidak melenceng dari sasaran.
Wartawan : Andreas













