NARASITODAY.COM, SIMALUNGUN – Langit Nagori Karang Anyar, Kecamatan Gunung Maligas, seketika berubah mencekam pada Selasa (31/3/2026). Hujan deras yang semula dianggap biasa, tiba-tiba berubah menjadi petaka saat angin puting beliung datang menyapu pemukiman warga. Dalam hitungan menit, atap-atap rumah beterbangan dan pohon-pohon besar tumbang, melumpuhkan urat nadi aktivitas desa di Kabupaten Simalungun tersebut.
Hingga Rabu (1/4/2026), puing-puing material bangunan masih berserakan, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya kekuatan angin yang menerjang wilayah Sumatra Utara tersebut.
Kerusakan Masif dan Satu Korban Luka Berat
Aparat kepolisian dari Polsek Bangun segera melakukan penyisiran dan pendataan sesaat setelah badai mereda. Berdasarkan data sementara, tercatat sebanyak 81 unit rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Kapolsek Bangun, AKP Hengky B. Siahaan, merinci bahwa bencana ini mengakibatkan 39 rumah rusak berat, 42 rumah rusak ringan, serta satu unit bangunan sekolah yang turut terdampak.
“Awalnya hujan deras, lalu datang angin cukup kuat dan dalam waktu singkat merusak atap rumah warga serta menumbangkan beberapa pohon,” ujar Hengky saat memberikan keterangan pada Rabu (1/4/2026).
Meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, satu warga terpaksa dilarikan ke pusat kesehatan terdekat karena mengalami luka berat. Korban dilaporkan tertimpa material bangunan saat berusaha menyelamatkan diri ketika pusaran angin menghantam kediamannya.
Gotong Royong di Tengah Puing
Selain merusak hunian, amukan angin juga menumbangkan pohon di lima titik strategis yang sempat menutup akses jalan utama desa. Sejak Rabu pagi, personel Polsek Bangun bersama Bhabinkamtibmas dan warga setempat bahu-membahu membersihkan batang pohon yang melintang di jalan.
Hengky menegaskan bahwa pihaknya langsung berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat proses evakuasi dan pemberian bantuan darurat.
“Kami langsung bergerak ke lokasi begitu menerima informasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar penanganan bisa cepat dilakukan,” kata Hengky.
Waspada Cuaca Ekstrem Susulan
Saat ini, akses jalan desa berangsur normal kembali setelah dilakukan gotong royong pembersihan. Namun, rasa was-was masih menghantui warga mengingat cuaca ekstrem yang sulit diprediksi belakangan ini. Pihak kepolisian pun mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap siaga jika tanda-tanda badai kembali muncul.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan. Segera mencari tempat aman jika terjadi hujan deras disertai angin kencang. Saat ini warga bersama petugas masih terus melakukan pembersihan serta memperbaiki rumah yang rusak,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, bantuan logistik dan material bangunan mulai disalurkan secara bertahap kepada warga yang kehilangan tempat tinggal agar mereka dapat segera memulihkan kondisi pasca-bencana.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














