Pasokan Melimpah Pasca-Lebaran, Peternak Ayam Kini Menjerit Terhimpit Rugi

0
Lebaran
Ilustrasi angan wanita memberi makan ayam.Foto : Istock

NARASITODAY.COM JAKARTA – Riuh rendah perayaan Lebaran telah usai, namun bagi para peternak ayam, masa pasca-hari raya justru mendatangkan awan mendung. Harga ayam hidup di tingkat peternak merosot tajam akibat fenomena kelebihan pasokan (oversupply) yang membanjiri pasar.

Kondisi lesu ini tergambar jelas di wilayah sentra produksi. Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam (Gopan), Sugeng Wahyudi, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup di Jawa Barat kini tertahan di angka Rp 19.000 per kilogram (kg). Angka ini bahkan lebih rendah jika melirik ke wilayah Jawa Tengah.

Penurunan ini terasa sangat kontras dibandingkan masa puncaknya. “Harga ayam hidup di kandang (sebagai perbandingan) pernah mencapai kisaran Rp 25.000 per kg,” ungkap Sugeng kepada Kontan, Senin (6/4/2026) malam.

Baca Juga :  Kroket Kentang Isi Rendang Ayam: Kreasi Camilan yang Bikin Nagih!

Beban Berat di Tengah Kandang

Bagi peternak, selisih harga ini bukan sekadar angka, melainkan ancaman keberlangsungan usaha. Saat ini, biaya pokok produksi (modal) untuk membesarkan ayam ukuran besar mencapai Rp 21.000 per kg. Dengan harga jual yang hanya Rp 19.000, para peternak terpaksa menelan pil pahit kerugian sekitar Rp 2.000 untuk setiap kilogram ayam yang keluar dari kandang.

Baca Juga :  Tips Cek 5 Ciri HP Refurbish yang Sering Disamarkan sebagai HP Baru

Ironisnya, lesunya serapan pasar membuat siklus produksi terhambat. Kandang-kandang yang seharusnya sudah dibersihkan untuk bibit baru, kini masih terisi ayam yang siap panen namun tak kunjung terserap pasar.

“Hal ini disebabkan oleh kesiapan kandang yang belum maksimal, efek dari perlambatan serapan ayam hidup di kandang,” jelas Sugeng.

Ia menambahkan, penumpukan stok ini merupakan dampak domino dari periode libur panjang para pedagang dan Rumah Potong Ayam (RPA) selama masa Lebaran, yang mengakibatkan arus distribusi tersumbat.

Menanti Solusi Pemerintah

Menanggapi situasi kritis ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian dikabarkan akan segera turun tangan. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementan dijadwalkan akan mempertemukan para pelaku usaha untuk membedah dinamika supply-demand yang berguncang dalam sepuluh hari terakhir.

Baca Juga :  Selamat! Anak Kedua Ello Resmi Lahir di Tanggal Cantik, Momen Spesial untuk Keluarga

Gopan berharap pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan menghasilkan langkah konkret untuk menyeimbangkan pasar.

“Rekomendasi dari Gopan adalah agar secepatnya koordinasi antarpelaku, agar tidak terjadi penurunan harga ke level lebih rendah lagi,” pungkas Sugeng.

Tanpa intervensi cepat, para peternak khawatir tren penurunan harga ini akan semakin dalam dan mengancam stabilitas ketahanan pangan protein hewani di masa mendatang.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber