Krisis Energi Global Tekan Ekonomi, Pemerintah Diminta Perkuat Komunikasi Publik

0
Jakarta-Cikampek
Ilustrasi Tangan memegang pompa nosel bahan bakar.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Krisis energi global yang kian pekat, sebuah kabar melegakan datang dari balik meja kebijakan. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) hingga akhir tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai “payung” pelindung bagi daya beli masyarakat yang mulai basah kuyup terkena percikan ketidakpastian ekonomi dunia.

Anggota Komisi VI DPR RI, Nevi Zuairina, menilai komitmen ini adalah sinyal penting bagi pasar dan rakyat. Di tengah konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, stabilitas harga menjadi jangkar agar konsumsi rumah tangga tidak terombang-ambing.

Baca Juga :  Bebas Gadget! 5 Aktivitas Menarik untuk Anak Selama Road Trip

“Komitmen ini penting untuk menjaga stabilitas, namun publik juga harus memahami kondisi yang sedang terjadi,” ujar Nevi dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Komunikasi di Tengah Badai

Namun, menjaga harga saja tidaklah cukup. Nevi menekankan bahwa pemerintah harus berani berbicara jujur kepada rakyat. Strategi komunikasi menjadi kunci agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen, tetapi juga paham risiko besar yang sedang mengintai dari luar perbatasan negara.

Gangguan pasokan energi global, terutama di jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz yang mengalirkan sekitar 21% minyak dunia kini berada dalam kondisi rentan. Dalam skenario terburuk, harga minyak dunia diprediksi bisa meroket hingga US$ 200 per barel.

Baca Juga :  5 Kriteria Hewan yang Bisa Didomestikasi, Kenapa Banyak yang Gagal?

Bagi Indonesia, setiap kenaikan US$ 1 per barel bukan sekadar angka di layar saham tapi ia berarti tambahan beban fiskal sekitar Rp10,3 triliun. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini tengah berjuang menahan beban subsidi yang membengkak demi mencegah inflasi meledak.

Gerakan Kolektif Hemat Energi

Menghadapi tantangan sistemik ini, Nevi mendorong adanya kampanye kesadaran energi yang melibatkan generasi muda hingga influencer. Tujuannya jelas: mengubah pola pikir masyarakat dari sekadar memakai menjadi sadar akan keterbatasan energi.

Baca Juga :  Kesadaran akan Pencegahan Kesehatan Meningkat, Industri dan Pemerintah Fokuskan Strategi Baru

Ia mengajak setiap rumah tangga untuk mulai melakukan langkah sederhana dalam penghematan energi. Baginya, krisis ini adalah momentum untuk membangun kesadaran bahwa ketahanan energi adalah tanggung jawab kolektif.

Ketahanan energi nasional kini tidak lagi bisa hanya disandarkan pada bahu pemerintah. Diperlukan partisipasi seluruh elemen masyarakat untuk memastikan bahwa mesin ekonomi Indonesia tetap bisa berjalan tanpa harus menguras habis kantong negara.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber