NARASITODAY.COM, VATIKAN – Langit cerah Senin (13/4/2026), Paus Leo melangkah menuju pesawat yang akan membawanya melintasi samudra dan benua. Pemimpin Gereja Katolik berusia 70 tahun ini resmi memulai tur ambisius selama 10 hari ke empat negara Afrika, sebuah perjalanan yang bukan sekadar kunjungan diplomatik, melainkan misi besar untuk mengetuk nurani dunia.
Paus pertama asal Amerika Serikat ini dijadwalkan menempuh jarak hampir 18.000 kilometer melalui 18 penerbangan, mengunjungi 11 kota di Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Michael Czerny, penasihat dekat Paus sekaligus pejabat senior Vatikan, menegaskan bahwa perjalanan ini memiliki satu tujuan utama.
“Kunjungan ini bertujuan mengalihkan perhatian dunia ke Afrika,” ujar Czerny, melansir laporan Reuters.
Menembus Batas Tradisi
Meski baru satu tahun menjabat sejak terpilih pada Mei tahun lalu, Paus Leo yang dikenal dalam kondisi kesehatan prima ini tidak ragu mengambil rute yang kompleks. Pilihan pertamanya jatuh pada Aljazair, negara dengan mayoritas Muslim di mana umat Katolik hanyalah minoritas kecil kurang dari 10.000 jiwa di tengah 48 juta penduduk.
Kunjungan ini mencetak sejarah sebagai pertama kalinya seorang Paus menginjakkan kaki di tanah Aljazair. Di sana, ia tidak hanya bertemu pemimpin politik, tetapi juga dijadwalkan mengunjungi Masjid Agung Algiers dan berziarah ke reruntuhan kota kuno Hippo di Annaba, sebuah situs emosional bagi Ordo Augustinian yang menjadi latar belakang religius sang Paus.
Suara untuk yang Terpinggirkan
Bukan Paus Leo namanya jika tidak menyentuh isu-isu sensitif. Sepanjang tur, ia dijadwalkan menyampaikan sekitar 25 pidato. Juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, mengungkapkan bahwa agenda Paus akan sangat padat dengan isu-isu krusial.
“Topik yang akan diangkat antara lain eksploitasi sumber daya alam, dialog antaragama Katolik-Muslim, hingga risiko korupsi politik,” jelas Bruni.
Isu-isu ini menjadi sangat relevan saat Paus mengunjungi Kamerun dan Guinea Khatulistiwa, negara-negara yang tengah berjuang melawan tantangan hak asasi manusia dan kepemimpinan yang panjang. Di Douala, Kamerun, napas spiritualitas benua ini akan memuncak, di mana sekitar 600.000 umat diperkirakan akan memadati misa akbar.
Mengapa Afrika Begitu Penting?
Data Vatikan menunjukkan bahwa Afrika bukan lagi sekadar wilayah misi, melainkan jantung baru Katolik dunia. Lebih dari 20% umat Katolik global kini menetap di benua ini. Dengan penguasaan berbagai bahasa Italia, Inggris, Prancis, Portugis, hingga Spanyol Paus Leo berusaha berbicara langsung ke hati rakyat Afrika.
Setelah sebelumnya vokal mengkritik perang di Iran serta melakukan kunjungan ke Turki, Lebanon, dan Monako, tur 10 hari ini menjadi pembuktian dedikasi sang Paus. Di balik angka 18.000 kilometer dan belasan penerbangan, ada harapan agar dunia tak lagi memalingkan muka dari kebutuhan mendesak di rumah bagi seperlima umat Katolik dunia tersebut.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














