India Prediksi Musim Hujan di Bawah Rata-Rata, Ancaman bagi Pertanian dan Ekonomi

0
India
Ilustrasi Bendera India terisolasi di langit biru.Foto : Istock

NARISTODAY.COM, NEW DELHI – Langit India, yang biasanya menjadi tumpuan harapan jutaan petani, diprediksi tidak akan sebermurah hati biasanya tahun ini. Pemerintah India memberikan peringatan awal bahwa curah hujan musim monsun tahun 2026 kemungkinan besar akan berada di bawah rata-rata sebuah fenomena pertama dalam tiga tahun terakhir yang mengancam stabilitas ekonomi negara tersebut.

Di tengah upaya India meredam inflasi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel, kabar ini menjadi tantangan ganda bagi ekonomi bernilai hampir US$ 4 triliun tersebut.

Ancaman di Balik Angka 92%

Musim hujan bukan sekadar fenomena cuaca di India yaitu ia adalah detak jantung ekonomi. Monsun menyumbang hampir 70% curah hujan tahunan yang mengairi lahan pertanian serta mengisi waduk-waduk raksasa.

Sekretaris Kementerian Ilmu Bumi, M. Ravichandran, menyatakan bahwa curah hujan tahun ini diperkirakan hanya mencapai 92% dari Rata-rata Jangka Panjang (LPA). Sebagai catatan, Departemen Meteorologi India (IMD) menetapkan angka normal berada di kisaran 96% hingga 104%.

Baca Juga :  Politik Study Tour

“Saat ini kondisi seperti La Nina yang lemah sedang bertransisi ke kondisi netral. Tetapi setelah Juni, sangat mungkin El Nino akan berkembang,” ujar Mrutyunjay Mohapatra, Direktur Jenderal IMD, dalam konferensi pers pada Senin (13/4/2026).

Fenomena El Nino, yang ditandai dengan memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, secara historis sering kali membawa kekeringan parah ke daratan Asia Selatan, menghancurkan hasil panen, dan memaksa pemerintah melakukan restriksi ekspor pangan.

Harapan dari Samudra Hindia

Meski El Nino membayangi, para ahli meteorologi masih melihat secercah harapan dari arah barat. Mohapatra menjelaskan bahwa pola iklim lain yang disebut Indian Ocean Dipole (IOD) positif diprediksi akan muncul di penghujung musim.

“Tetapi di bagian akhir musim monsun, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif kemungkinan akan berkembang dan itu akan membantu monsun,” tambah Mohapatra. IOD positif biasanya membawa suhu air yang lebih hangat ke Samudra Hindia bagian barat, yang sering kali mampu “memancing” curah hujan lebih kuat ke daratan India, sekaligus mengimbangi efek kering dari El Nino.

Baca Juga :  AS Tingkatkan Tekanan Ekonomi terhadap Iran di Tengah Kebuntuan Diplomasi dan Ancaman Konflik

Alarm bagi Ekonomi dan Inflasi

Angka ramalan 92% ini adalah yang terendah dalam hampir 30 tahun terakhir. Para ekonom mulai menghitung dampak buruknya terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) serta daya beli masyarakat.

Aditi Nayar, Kepala Ekonom di lembaga pemeringkat ICRA, memberikan peringatan serius. “Hal ini, bersama dengan dampak yang akan datang dari krisis yang sedang berlangsung di (Timur Tengah), menimbulkan risiko penurunan terhadap pertumbuhan PDB India pada tahun fiskal 2026-2027,” tuturnya.

Nayar juga memproyeksikan inflasi ritel bisa melonjak melebihi 4,5% akibat kenaikan harga pangan, naik signifikan dari posisi 3,4% pada Maret lalu.

Baca Juga :  Temukan Kedamaian di 5 Danau Bogor, Pilihan Wisata Keluarga Terbaik

Dampak Pasar Global

Sebagai pengekspor beras dan bawang merah terbesar di dunia, serta produsen gula nomor dua, kesehatan ladang-ladang di India menentukan harga pangan global. Kekeringan di India berarti berkurangnya pasokan dunia.

Selain itu, sebagai importir minyak nabati terbesar, India kemungkinan akan semakin bergantung pada pasokan dari negara mitra seperti Indonesia dan Malaysia jika produksi biji-bijian domestik anjlok.

“Curah hujan yang lebih rendah kemungkinan akan meningkatkan impor minyak nabati India dan menghilangkan kemungkinan ekspor gula pada musim berikutnya,” ujar seorang pedagang komoditas global yang berbasis di Mumbai.

Pemerintah India dijadwalkan akan merilis prakiraan terbaru pada akhir Mei mendatang. Hingga saat itu, para petani dan pelaku pasar hanya bisa berharap agar IOD positif benar-benar datang tepat waktu untuk menyelamatkan musim tanam tahun ini.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber