Waspada Kemarau Lebih Kering, BMKG Prediksi El Nino Mulai Membayangi Semester II-2026

0
BMKG
Ilustrasi langit biru cerah.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit Indonesia mulai memasuki babak baru. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa meski saat ini kondisi iklim global masih berada pada fase netral, ancaman kemarau yang lebih menyengat mulai mengintai di paruh kedua tahun ini.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) saat ini berada di angka +0,28. Namun, ketenangan ini diprediksi tidak bertahan lama. Memasuki semester kedua 2026, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi fenomena El Nino.

“Kondisinya bisa berkembang ke fase El Nino lemah. Perkembangannya bisa sampai moderat dengan peluang 50-80 persen,” jelas Faisal dalam keterangannya, Selasa (14/4).

Meluruskan Mitos Kemarau dan El Nino

Baca Juga :  5 Buah Alami untuk Menurunkan Gula Darah Tinggi: Ciptakan Pola Makan Sehat Hari Ini!

Di tengah masyarakat, sering kali muncul anggapan bahwa kemarau adalah sinonim dari El Nino. Faisal pun merasa perlu meluruskan misinformasi tersebut agar langkah antisipasi masyarakat tepat sasaran. Ia menegaskan bahwa keduanya adalah fenomena yang berbeda, meski bisa terjadi secara simultan.

“Perlu dipahami bahwa kemarau dan El Nino itu adalah dua fenomena yang berbeda dan tidak selalu terjadi bersamaan. Kemarau tetap akan datang setiap tahun di Indonesia. Tapi jika El Nino terjadi bertepatan dengan musim kemarau, maka kemaraunya akan menjadi jauh lebih kering,” jelas Faisal, dikutip dari laman resmi BMKG.

Data BMKG menunjukkan musim kemarau tahun ini akan datang secara bertahap:

  • April: 16,3% wilayah (114 ZOM) mulai memasuki kemarau.
  • Mei: 26,3% wilayah (184 ZOM) menyusul.
  • Juni: 23,3% wilayah (163 ZOM) menjadi puncak masuknya musim kering.
Baca Juga :  Peta Gempa 2024 Ungkap 14 Zona Megathrust, Potensi Guncangan Capai Magnitudo 9

Yang perlu diwaspadai, awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia (46,5%) diprediksi datang lebih awal atau “maju” dari jadwal normalnya.

Strategi Ketahanan Air dan Pangan

Menghadapi potensi kemarau kering ini, BMKG tidak bekerja sendiri. Strategi penguatan manajemen waduk hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) mulai disiapkan. Faisal menekankan bahwa data cuaca kini menjadi tulang punggung bagi sektor-sektor strategis nasional.

BMKG tidak hanya mengurusi kebencanaan, tetapi juga mendukung berbagai sektor pembangunan seperti pertanian, perhubungan (darat, laut, dan udara), serta infrastruktur pekerjaan umum,” tutur Faisal.

Baca Juga :  Menyajikan Soto Padang: Resep Kuah Bening yang Segar dan Menggugah Selera

Sisi infrastruktur pun menjadi perhatian serius. Plh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Adenan Rasyid, memperingatkan bahwa kemarau kering ini bukan sekadar soal panas matahari, melainkan ancaman terhadap pola tanam hingga risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) akibat penurunan volume waduk.

“Kita tidak bisa menghindari kemarau, tetapi kita bisa memastikan dampaknya tidak berkembang menjadi krisis. Kecepatan antisipasi dan koordinasi menjadi kunci yang harus kita jaga bersama,” ujar Adenan.

Pemerintah kini berpacu dengan waktu sebelum matahari berada di puncaknya, memastikan cadangan air cukup bagi petani dan hutan-hutan tetap terjaga dari kobaran api di tengah bayang-bayang El Nino yang kian mendekat.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com