NARASITODAY.COM, ANTALYA – Kepulan asap konflik yang menyelimuti Teluk Persia, sebuah optimisme ditiupkan dari lapangan hijau. Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan keyakinannya bahwa Tim Nasional Iran akan tetap menginjakkan kaki di rumput Piala Dunia 2026, meski negara tersebut tengah terjebak dalam pusaran ketegangan militer dengan Amerika Serikat (AS).
Konflik yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz sempat memunculkan tanda tanya besar: apakah sepak bola masih punya tempat di tengah perseteruan bersenjata? Isu mundurnya Iran bahkan sempat mengapungkan harapan bagi negara Asia lain, termasuk Indonesia, untuk mengisi posisi kosong tersebut.
Politik vs Sportivitas
Ketegangan kian memuncak mengingat Iran dijadwalkan melakoni seluruh laga fase grup justru di wilayah Amerika Serikat. Permintaan pemerintah Iran untuk memindahkan venue ke Meksiko secara resmi telah ditolak oleh FIFA. Namun, bagi Infantino, antusiasme para pemain adalah jawaban atas segala keraguan politik.
“Timnas Iran pasti main di Piala Dunia,” ujar Infantino tegas, sebagaimana dilansir dari ESPN, Kamis (16/4/2026).
Kepastian ini didapat Infantino saat ia mengunjungi pemusatan latihan Tim Melli di Antalya, Turki, pada jeda internasional bulan lalu. Di sana, ia melihat bahwa bagi para pemain, sepak bola adalah misi suci untuk mewakili harapan rakyat di tengah krisis.
“Tentu saja kami berharap situasinya nanti akan tenang-tenang saja, itu akan sangat membantu. Tapi tentu saja Iran akan datang. Mereka mewakili rakyat mereka. Mereka sudah lolos. Para pemain ingin bermain,” sambungnya.
Misi Mendamaikan Bumi
FIFA bersikeras bahwa lapangan bola harus menjadi zona netral yang steril dari intervensi politik. Infantino menekankan bahwa semangat olahraga tidak boleh padam hanya karena konflik antarnegara.
“Saya bertemu mereka dua pekan lalu ketika lagi pemusatan latihan di Antalya. Dan mereka sangat ingin bermain. Mereka harus bermain – olahraga harus dilepaskan dari politik. Memang kita tinggal di planet Bumi, bukan bulan. Tapi, kami sedang coba membangun hubungan yang baik dan membuat mereka tetap solid,” tutur Infantino.
Jika komitmen ini bertahan, Iran akan menghadapi tantangan mental yang luar biasa. Mereka dijadwalkan mengawali laga di SoFi Stadium, Inglewood, California, bertemu Selandia Baru pada 15 Juni dan Belgia pada 21 Juni. Perjalanan mereka akan berlanjut ke Seattle pada 26 Juni untuk menantang Mesir.
Jika berhasil lolos ke fase gugur, bagan pertandingan menunjukkan bahwa Iran kemungkinan besar akan tetap bermain di stadion-stadion Amerika Serikat. Kini, dunia menanti apakah narasi “bola pemersatu” milik Infantino mampu meredam panasnya tensi politik saat peluit pertama dibunyikan di tanah Amerika nanti.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














