IMF Peringatkan Lonjakan Permintaan Pinjaman Negara Terkait Krisis Global Akibat Perang di Timur Tengah

0
ekonomi
Logo Dana Moneter Internasional (IMF).Foto : medcom.id

NARASITODAY.COM, Di koridor-koridor dingin gedung pertemuan IMF di Washington, aroma kecemasan tercium lebih tajam dari biasanya. Perang di Timur Tengah bukan sekadar berita duka di layar televisi, melainkan guncangan nyata yang kini memaksa sedikitnya 12 negara mengetuk pintu Dana Moneter Internasional (IMF) demi menyambung napas ekonomi mereka.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengungkapkan bahwa lonjakan harga energi dan lumpuhnya rantai pasokan global telah menciptakan tekanan yang tak tertahankan. Setidaknya US$20 miliar hingga US$50 miliar (sekitar Rp340 triliun hingga Rp850 triliun) kini disiapkan sebagai dana talangan darurat.

“Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru dalam jumlah besar, baik dalam bentuk pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan,” ujar Georgieva dalam konferensi pers di sela Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga :  DPRD Kabupaten Bogor dan Pemkab Bogor Apresiasi Petugas Pos PAM Lebaran

Bayang-bayang Resesi dan Selat Hormuz

Krisis ini bukan sekadar angka di atas kertas. Georgieva menggambarkan betapa lambannya pemulihan distribusi energi dunia laksana kapal tanker yang bergerak berat di tengah samudera.

“Gangguan ini tidak akan hilang dalam semalam, bahkan jika perang berakhir besok. Kapal tanker bergerak lambat, bisa butuh 40 hari untuk sampai ke tujuan,” jelasnya menyoroti ancaman penutupan Selat Hormuz.

Negara-negara Asia berada di garis depan kerentanan karena ketergantungan ekstrem pada impor minyak dan gas dari kawasan Teluk. IMF bahkan memberikan peringatan kelam: jika konflik berkepanjangan dan harga minyak menyentuh US$100 per barel, pertumbuhan ekonomi dunia bisa merosot hingga 2%, mendekati ambang resesi global.

Baca Juga :  Tape Singkong dan 5 Manfaatnya, Makanan Fermentasi yang Baik untuk Tubuh

Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, mengonfirmasi pergeseran ini. “Ekonomi global kini bergerak menuju skenario yang lebih buruk dibandingkan proyeksi awal,” tegasnya.

Dampak perang kini merembet ke piring makan penduduk dunia. Gangguan pasokan pupuk diperkirakan menyeret 45 juta orang ke jurang kerawanan pangan. Di negara berpenghasilan rendah, masyarakat harus merogoh kocek hingga 36% dari total konsumsi hanya untuk makan sebuah kontras tajam dibanding negara maju yang hanya menghabiskan 9%.

Meski tekanan berat, IMF mengingatkan pemerintah agar tidak “gelap mata” dengan mengguyur subsidi besar-besaran yang justru bisa membakar inflasi.

“Jika Anda mencoba mengatasi guncangan pasokan dengan menopang permintaan, hasilnya adalah inflasi yang lebih tinggi,” peringat Direktur Urusan Fiskal IMF, Rodrigo Valdes.

Baca Juga :  Bangladesh Perintahkan PNS Matikan AC dan Lampu, Krisis Timur Tengah Tekan Pasokan Energi

Solidaritas 11 Negara

Di tengah ketidakpastian ini, muncul gerakan kolektif. Sebanyak 11 negara termasuk Inggris, Jepang, dan Australia telah mendeklarasikan desakan dukungan ekonomi darurat. Mereka meminta IMF dan Bank Dunia menggunakan seluruh fleksibilitas perangkat keuangannya untuk meredam guncangan di Selat Hormuz.

Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, menyatakan bahwa navigasi energi global harus dijaga dengan segala cara. “Ketika ada gencatan senjata yang tepat, kami akan melihat bagaimana kami dapat membantu memastikan navigasi melalui Selat Hormuz tetap berjalan,” ujarnya kepada CNBC.

Kini, dunia hanya bisa menunggu dan bersiap. Dengan biaya pinjaman yang semakin mahal dan jalur logistik yang tercekik, ekonomi global tengah menempuh ujian ketahanan paling berat di tahun 2026.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com