NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di sebuah ruang pertemuan di Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026), sebuah visi besar tentang masa depan sains Indonesia dibedah. Bukan soal teknologi mutakhir atau dana riset miliaran rupiah, melainkan tentang apa yang terjadi di dalam ruang-ruang kelas pendidikan dasar dan menengah.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan komitmennya untuk menjaring talenta periset sejak dini. Namun, jalan menuju ekosistem riset yang ideal di bangku sekolah ternyata masih terjal, terhalang oleh keterbatasan infrastruktur dan kesiapan sumber daya manusia.
Hulu dari Ekosistem Riset
Kepala Pusat Prestasi Nasional (Kapuspresnas), Maria Veronica Irene, memandang kementeriannya sebagai hulu dari seluruh ekosistem riset nasional. Rentang usia yang dikelola sangat panjang, menuntut penanganan yang komprehensif.
“Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah itu kalau dilihat dari sasarannya, itu sasaran SDM dengan usia yang paling panjang, dari PAUD sampai guru pensiun. Makanya hal-hal yang (perlu) diselesaikan juga banyak,” tutur sosok yang akrab disapa Irene tersebut.
Ironi “Jago Teori, Lemah Praktik”
Tantangan pertama yang paling nyata adalah ketersediaan sarana dan prasarana. Irene mengungkapkan fakta pahit bahwa laboratorium mumpuni masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki sekolah-sekolah tertentu.
Dampaknya terasa nyata di kancah internasional. Irene mengenang momen pahit saat siswa SMP Indonesia berlaga di International Junior Science Olympiad (IJSO). Meski otak mereka cemerlang dalam teori, tangan mereka kaku saat harus berhadapan dengan alat-alat laboratorium.
“Mereka nggak bisa praktikum, mereka lebih bisa teori. Bisa teori, belajar. Tapi praktik ini kan sesuatu yang harus jadi daily activity di dalam pembelajaran. Harus engage di dalam pembelajaran. Tidak bisa yang sekali lihat YouTube, lihat video, harus praktik sendiri,” urainya dengan nada menekankan pentingnya pengalaman langsung.
Menjawab persoalan ini, Kemendikdasmen kini tengah memacu program Revitalisasi Satuan Pendidikan untuk menghadirkan laboratorium yang memenuhi standar nasional bagi seluruh siswa, bukan hanya segelintir sekolah elit.
Guru sebagai Kompas Kritis
Selain fasilitas, tantangan kedua terletak pada pundak para pengajar. Guru diharapkan tidak hanya mengejar jam tayang kurikulum, tetapi harus menjadi kompas bagi siswa dalam membangun pola pikir ilmiah (science mindset).
Irene menegaskan bahwa berpikir kritis adalah keterampilan yang harus dimiliki guru agar pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna. Guru harus menjadi role model yang mampu memantik rasa ingin tahu siswa melalui pendekatan saintifik.
“Dua hal itu saya pikir yang menjadi kunci krusial ketika (riset) di ekosistem yang paling dasar ini bisa diperjuangkan,” pungkas Irene menutup paparannya dalam acara Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize.
Dengan revitalisasi laboratorium dan penguatan kapasitas guru, pemerintah berharap riset tidak lagi dianggap sebagai dunia asing bagi anak-anak sekolah. Sebaliknya, riset diharapkan menjadi kebiasaan harian yang akan melahirkan periset-periset tangguh yang mampu membawa Indonesia ke panggung Nobel di masa depan.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














