PM Malaysia Anwar Ibrahim Klaim Negeri Tetap Aman dari Penjatahan Bahan Bakar di Tengah Krisis Global

0
Anwar Ibrahim
Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Foto : wikipedia.org

NARASITODAY.COM, JOHOR BAHRUGejolak pasokan energi dunia yang memaksa sejumlah negara tetangga menutup ratusan stasiun pengisian bahan bakar, Malaysia mengklaim posisi unik sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum menerapkan penjatahan bahan bakar minyak (BBM).

Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa stabilitas ini merupakan buah dari kebijakan subsidi strategis dan langkah diplomasi luar negeri yang taktis. Hal tersebut ia sampaikan dalam sesi temu ramah bersama staf Institut Pendidikan Guru (IPG) dan siswa Pusat Tingkat Atas di kampus IPG Temenggong Ibrahim, Jumat (24/4/2026).

Diplomasi Selat Hormuz dan Subsidi Rakyat

Di saat harga energi melambung tinggi, Anwar menyoroti kontrasnya harga BBM di Malaysia dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Ia menyebut bensin jenis RON95 di Malaysia masih dibanderol RM1,99 per liter, angka yang menurutnya sulit ditemukan di tempat lain.

Baca Juga :  5 Strategi Mudik Hemat BBM, Perjalanan Nyaman dan Ramah Lingkungan

“Berapa harga RON95 di negara-negara tetangga? Beberapa telah mencapai RM10,50 per liter, yang lain RM4, dan RM6. Dan kita? RM1,99,” ujar Anwar sebagaimana dikutip dari The Edge Malaysia, Sabtu (25/4/2026).

Anwar mengungkapkan bahwa kelancaran pasokan ini salah satunya berkat hubungan baik Kuala Lumpur dengan Iran. Di saat ketegangan geopolitik meningkat, tanker-tanker Malaysia mendapatkan pengecualian untuk melintasi titik nadi energi dunia, Selat Hormuz.

“Negara mana lagi yang diizinkan mengirim tanker minyak melalui Selat Hormuz? Namun ada pemimpin politik oposisi yang mengklaim kita tidak melewati Selat Hormuz. Ini menunjukkan kurangnya kerendahan hati dalam mencari fakta,” sentilnya terhadap kritik oposisi.

Baca Juga :  Nina Nugroho Warnai Dunia Seni Indonesia dengan Kreasikan Batik Pinto Aceh Bertema Peuhaba

Tantangan Penyelundupan di Perbatasan

Namun, murahnya harga BBM di dalam negeri membawa konsekuensi pelik yaitu maraknya aksi penyelundupan. Anwar menyebutkan bahwa selisih harga yang ekstrem dengan negara tetangga memicu kebocoran subsidi yang merugikan keuangan negara hingga miliaran ringgit.

Sebagai langkah konkret, rapat Kabinet pada Rabu lalu telah memutuskan untuk mempertebal personel kepolisian dan petugas penegak hukum di wilayah perbatasan.

Bahan bakar kita terlalu murah dan penyelundupan terlalu merajalela. Ketika penyelundupan terjadi, itu berarti uang negara mengalir keluar. Jadi kita harus memperketat kontrol karena miliaran ringgit hilang,” tegas Anwar.

Permintaan Diesel dari Australia

Baca Juga :  Maulid Nabi di Polda Metro Jaya, Kapolri Berpesan Begini

Krisis pasokan global ini rupanya tidak hanya menghantam negara berkembang. Anwar menceritakan bagaimana Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, sempat melontarkan permintaan pasokan diesel kepada Malaysia dalam pertemuan resmi baru-baru ini.

Meski memiliki hubungan bilateral yang erat di mana Malaysia mengimpor pupuk fosfat dari Australia untuk petani Felda Anwar menyatakan bahwa kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama.

“Dia [Albanese] bertanya apakah Malaysia dapat memasok diesel. Saya mengatakan kita tidak memiliki surplus diesel, tetapi jika ada kelebihan, kita dapat mengekspornya,” tuturnya.

Menutup arahannya, Anwar mengimbau masyarakat untuk lebih kritis terhadap informasi di media sosial dan memahami kompleksitas geopolitik agar tidak mudah terhasut oleh narasi ekonomi yang tidak akurat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com