NARASITODAY.COM, NEW YORK – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi lautan global yang saat ini berada dalam “krisis yang semakin dalam”. Melalui laporan Penilaian Laut Dunia (WOA) III setebal 1.352 halaman yang disusun oleh 600 ilmuwan internasional, PBB menuntut adanya tindakan global yang mendesak demi menyelamatkan ekosistem penopang hidup bumi tersebut.
Laporan yang dirilis pada Selasa (9/6/2026) waktu setempat ini memaparkan data yang mengkhawatirkan: suhu laut menghangat dan naik lebih cepat, lapisan es menyusut drastis, serta ekosistem laut berada di bawah tekanan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Bayangkan sebuah benteng raksasa yang selama puluhan tahun diam-diam melindungi manusia dari sengatan pemanasan global. Benteng itu adalah laut kita, yang selama ini telah menyerap lebih dari 90% panas berlebih dan 30% karbon dioksida ($CO_2$) akibat pembakaran bahan bakar fosil.
Namun kini, benteng itu mulai retak. Lautan yang menghangat mulai memuai, memicu kenaikan permukaan air yang kian mengancam pesisir, diperparah oleh miliaran ton air lelehan gletser yang terus mengalir tanpa henti.
“Lautan adalah fondasi kehidupan di Bumi,” tulis laporan WOA III PBB, dikutip dari AFP. “Tetapi kesehatannya berada dalam risiko serius karena ekosistem dan habitat mendekati atau melampaui titik kritis.”
“Krisis yang semakin dalam, karena perubahan iklim, polusi, penangkapan ikan berlebihan, dan hilangnya keanekaragaman hayati memberikan tekanan berat pada sistem laut,” tambah laporan tersebut.
Data riset yang mencakup periode 2018–2023 ini menggambarkan betapa cepatnya kerusakan terjadi. Sekitar 16% dari total peningkatan kandungan panas laut yang tercatat sejak tahun 1955 ternyata terjadi hanya dalam kurun waktu singkat sejak tahun 2018.
Akibatnya, kenaikan permukaan air laut melonjak lebih dari dua kali lipat, dari yang sebelumnya kurang dari 2,0 milimeter per tahun sebelum tahun 2015, menjadi 4,3 mm pada tahun 2023. Bagi mata awam, angka ini mungkin terlihat sepele. Namun di garis pantai, setiap milimeter adalah ancaman yang siap menenggelamkan ruang hidup manusia.
“Meskipun milimeter mungkin tampak kecil, jumlahnya meningkat sangat cepat,” ujar Ian Butler, seorang ahli ekologi kelautan yang berbasis di Australia sekaligus koordinator bersama kelompok ahli WOA.
Di tengah kondisi laut yang sedang “sakit sakitan”, ancaman baru kini mengintai dari dasar samudra yang paling dalam dan sunyi. Laporan PBB tersebut menyoroti kekhawatiran yang meningkat atas rencana penambangan laut dalam (deep-sea mining). Meskipun saat ini belum ada perusahaan atau negara yang memulai produksi skala komersial, tahap eksplorasi dilaporkan sudah sangat maju.
Para aktivis dan kritikus lingkungan khawatir, industri ekstraktif ini akan menjadi pukulan telak terakhir bagi laut. Deru bising mesin-mesin berat di kegelapan dasar laut diprediksi akan mengacaukan jalur migrasi mamalia samudra, sementara limbah yang dihasilkan berisiko mencekik dan meracuni kehidupan biota laut yang belum sempat dijelajahi manusia.
Menanggapi laporan suram ini, para peneliti menuntut tindakan mendesak melalui kerja sama multilateral yang jauh lebih kuat. PBB menegaskan bahwa manusia tidak bisa lagi menutup mata dan menganggap laut sebagai tempat pembuangan yang tak punya batas akhir.
“Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sesuatu yang tak terbatas,” tegas Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam pernyataan resminya.
“Kita harus membangun hubungan baru dengan laut yaitu Berdasarkan ilmu pengetahuan. Dibingkai oleh hukum internasional. Dan dibangun di atas tanggung jawab bersama,” pungkasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














