NARASITODAY.COM, HAVANA – Kegelapan malam Kota Havana yang pengap, suara dentingan panci dan wajan yang dipukul warga terdengar bersahut-sahutan di jalanan. Di tengah pemadaman listrik massal yang melumpuhkan negara Komunis tersebut, Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), John Ratcliffe, secara mengejutkan mendarat di Kuba pada Kamis waktu setempat.
Kunjungan mendadak pejabat tinggi di era pemerintahan Donald Trump ini dilakukan tepat sehari setelah pemerintah Kuba secara terbuka mengakui bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) untuk masyarakat dan dunia usaha telah habis total.
Menurut pejabat AS, kedatangan Ratcliffe bertujuan untuk memberikan peringatan keras agar Havana segera melakukan reformasi ekonomi dan menghentikan operasional pos-pos intelijen Rusia serta China di pulau tersebut.
Berdasarkan laporan The New York Times, Ratcliffe merupakan pejabat tertinggi dalam kabinet Trump yang pernah menginjakkan kaki di Kuba. Lawatan ini menjadi bagian dari strategi Washington untuk memperparah tekanan terhadap pemerintah Komunis Kuba demi memuluskan tuntutan Presiden Donald Trump terkait pergantian rezim.
“Bahwa Amerika Serikat siap untuk terlibat secara serius dalam masalah ekonomi dan keamanan, tetapi hanya jika Kuba melakukan perubahan mendasar,” bunyi pernyataan resmi CIA terkait pesan langsung yang dibawa Ratcliffe dari Trump untuk Havana.
Selama berada di Havana, Ratcliffe dilaporkan menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh kunci Kuba. Di antaranya adalah Lázaro Álvarez Casas (Menteri Dalam Negeri Kuba), kepala dinas intelijen Kuba, serta Raúl G. Rodríguez Castro yang akrab disapa “Raulito” atau “El Cangrejo” (Si Kepiting), sosok cucu mantan presiden Raúl Castro yang dikenal sangat berpengaruh.
Di waktu yang bersamaan, kejaksaan federal di Miami dikabarkan tengah menyusun dakwaan hukum terhadap sang mentor politik negara, Raúl Castro senior. Dipimpin oleh Jaksa AS untuk Distrik Selatan Florida, Jason A. Reding Quiñones, dakwaan tersebut berpotensi mencakup kasus penyelundupan narkoba lama hingga insiden penembakan pesawat kemanusiaan kelompok Brothers to the Rescue oleh militer Kuba pada tahun 1996 silam.
Hidup Tanpa Listrik, Memasak dengan Kayu Bakar
Sisi humanis dari krisis ini memperlihatkan pemandangan yang memprihatinkan di sudut-sudut kota Kuba. Sehari sebelum Ratcliffe tiba, Menteri Energi dan Pertambangan Kuba, Vicente de la O Levy, menyampaikan pidato kelam mengenai kondisi energi domestik yang telah menyentuh titik nadir.
“Kami sama sekali tidak memiliki bahan bakar minyak, sama sekali tidak ada solar,” ujar Vicente de la O Levy pasrah. “Di Havana, pemadaman listrik hari ini melebihi 20 atau 22 jam.”
Akibat kelangkaan ekstrem ini, rutinitas harian warga Kuba mundur puluhan tahun ke belakang. Tanpa adanya aliran listrik dan gas, masyarakat terpaksa mencari kayu bakar atau arang hanya untuk sekadar memasak makanan. Frustrasi yang membubung membuat sebagian warga nekat turun ke jalan melakukan aksi protes.
Krisis energi ini sejatinya telah menggulung Kuba selama lebih dari dua tahun akibat rusaknya infrastruktur pembangkit serta menyusutnya pasokan minyak dari Venezuela.
Kondisi kian memburuk setelah AS membekukan industri minyak Venezuela dan menerapkan blokade maritim yang menghalau kapal-kapal tanker asing menuju Kuba, meskipun bulan lalu Washington sempat mengizinkan masuknya 730.000 barel minyak dari Rusia sebagai bantuan sementara.
Bantahan Keras Pemerintah Kuba
Di pihak lain, pemerintah Kuba melalui media resmi negara, Granma, membenarkan adanya pertemuan yang diinisiasi oleh pihak Amerika Serikat tersebut. Namun, Havana menolak keras narasi bahwa negaranya merupakan ancaman bagi keamanan domestik AS ataupun dicap sebagai negara penyokong terorisme.
“Sekali lagi ditegaskan bahwa pulau itu tidak menampung, mendukung, membiayai, atau mengizinkan organisasi teroris atau ekstremis; juga tidak ada pangkalan militer atau intelijen asing di wilayahnya, dan tidak pernah mendukung aktivitas permusuhan apa pun terhadap AS, juga tidak akan mengizinkan tindakan apa pun yang dilakukan dari Kuba terhadap negara lain,” tegas pemerintah Kuba dalam pernyataan resminya.
Hingga saat ini, pemerintahan Trump maupun pihak CIA belum merinci secara spesifik poin-poin reformasi ekonomi atau politik apa saja yang harus dipenuhi oleh Kuba. Kendati demikian, arah kebijakan Washington dinilai sangat jelas yaitu meruntuhkan dominasi dan kendali mutlak Partai Komunis atas sistem politik dan urusan ekonomi di Kuba.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














