Beban Pajak Tinggi, Ratusan Ribu Warga Swiss Pilih Keluar dari Gereja

0
Muda Indonesia
Ilustrasi Pemandangan udara ini menangkap kemegahan Gereja St. Paul di Basel, Swiss, yang terletak di lingkungan perumahan yang menawan.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BERN – Swiss lama dikenal sebagai salah satu negara dengan lanskap alam yang memukau, namun dibalik itu, ia juga memikul reputasi sebagai negara dengan beban pajak tertinggi di dunia.

Salah satu aturan fiskal unik yang mengikat warganya adalah penerapan pajak gereja. Aturan ini belakangan memicu fenomena sosial baru yaitu sebuah gelombang masyarakat yang memilih menyatakan diri sebagai ateis demi menghindari kewajiban finansial tersebut.

Sistem perpajakan ini diatur secara mandiri oleh kebijakan kanton atau provinsi masing-masing, dengan tarif berkisar antara 1% hingga 3%. Pajak ini bersifat wajib bagi setiap warga yang secara administratif terdaftar sebagai jemaat gereja yang diakui oleh negara.

Alhasil, mengajukan pengunduran diri secara resmi dari keanggotaan gereja menjadi satu-satunya jalur legal yang bisa ditempuh warga untuk memutus kewajiban membayar upeti tersebut.

Baca Juga :  Rudy Susmanto dan Jaro Ade Resmi Menangi Pilkada Kabupaten Bogor 2024

Berdasarkan laporan media lokal Le News, arus eksodus keagamaan ini melonjak tajam. Sepanjang tahun 2023, sebanyak 67.497 orang tercatat resmi meninggalkan Gereja Katolik di Swiss sebuah angka yang melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan data tahun 2022.

Fenomena serupa juga melanda Gereja Protestan, di mana sekitar 39.517 orang memilih angkat kaki pada tahun yang sama. Secara akumulatif, ada sekitar 100.000 warga Swiss yang menanggalkan status keanggotaan gereja mereka hanya dalam kurun waktu satu tahun tersebut.

Melihat lebih dekat pada peta geografisnya, data dari Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) menunjukkan bahwa wilayah Basel-Stadt mencatatkan persentase aksi mundur tertinggi, yakni mencapai 4,5%. Kanton yang terletak di utara Swiss ini memang memiliki regulasi birokrasi “berhenti dari keanggotaan gereja” yang relatif mudah, sehingga menjadi celah legal bagi warga yang ingin membebaskan dompet mereka dari potongan pajak keagamaan.

Baca Juga :  Jadwal Semifinal Swiss Open 2025: Pertarungan Seru Wakil Indonesia Melawan Lawan Tangguh

“Meski data resmi tidak selalu menyebutkan alasan kenapa orang meninggalkan gereja, statistik menunjukkan di provinsi di mana ada pajak gereja, tingkat orang yang meninggalkan Kristus cenderung lebih tinggi,” menurut laporan yang dirilis oleh Religion Watch.

Kendati faktor finansial menjadi pemantik utama yang kasat mata, badai yang menimpa gereja-gereja di Swiss tidak tunggal. Kehidupan modern yang kian sekuler serta rentetan kekecewaan publik terhadap berbagai skandal di lingkungan internal rumah ibadah turut andil dalam mendorong warga mengambil keputusan ekstrem tersebut.

Baca Juga :  Kebakaran Hebat Melanda Lahan Limbah di Rumpin, Puluhan Ribu Meter Persegi Terbakar

Fenomena ini pada akhirnya mengubah demografi spiritual Swiss secara fundamental. Berbagai survei dan data demografis terkini menunjukkan bahwa semakin banyak warga Swiss yang kini dengan nyaman mengidentifikasi diri mereka sebagai ateis atau tidak beragama, di mana angkanya telah menyentuh kisaran ~34% dari total populasi pada tahun 2022.

Pergeseran angka ini menjadi bukti bahwa terlepas dari urusan hemat pajak atau tidak, masyarakat Swiss secara perlahan memang sedang berjalan menjauh dari institusi agama formal.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com