Ryanair Siapkan Strategi Antisipasi Krisis Bahan Bakar Pesawat di Tengah Ketidakpastian Global

0
Jepang
Ilustrasi Pesawat terbang di langit.Foto : Istock

NARASITODAY.COM,DUBLIN – Jendela kokpit pesawat-pesawat komersial dunia, sebuah awan mendung bernama krisis bahan bakar sedang mengancam industri penerbangan global. Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah serta blokade berkepanjangan di Selat Hormuz telah memicu guncangan hebat pada pasokan minyak.

Di tengah situasi genting yang membuat banyak maskapai gemetar, raksasa penerbangan bertarif rendah (low-cost carrier) asal Eropa, Ryanair, justru mengaku telah mengantongi rencana darurat demi menghadapi skenario terburuk.

Kepala Keuangan Ryanair, Neil Sorahan, mengungkapkan bahwa maskapai asal Irlandia tersebut sudah membentengi diri dari risiko ekstrim, meski dirinya meyakini kondisi tidak akan seburuk yang ditakutkan.

“Apakah kami memiliki rencana untuk semacam situasi kiamat? Tenu saja, kami punya, tetapi saya tidak melihat itu akan terjadi,” tegas Neil Sorahan dalam sebuah wawancara bersama CNBC Internasional yang dikutip Senin (18/5/2026).

Kendati demikian, Sorahan memprediksi badai ekonomi kali ini akan menjadi akhir bagi sejumlah maskapai penerbangan yang kondisi keuangannya memang sudah sekarat.

“Saya pikir kita akan melihat beberapa maskapai penerbangan yang lebih lemah yang sudah berjuang sebelum perang mungkin akan bangkrut di musim dingin,” tambahnya.

Baca Juga :  Harga Air Minum Kemasan Galon di Jakarta Naik Akibat Gangguan Pasokan Plastik dari Konflik Timur Tengah

Sebagai langkah antisipasi taktis, Ryanair telah melakukan lindung nilai (hedging) terhadap 80% kebutuhan bahan bakar musim panas mereka pada tingkat harga US$668 per metrik ton. Strategi defensif ini diambil untuk meredam dampak langsung dari tingginya volatilitas pasar minyak saat ini.

“Saat ini kita berada di pasar minyak yang sangat fluktuatif,” ujar Sorahan. “Jika kita kembali beberapa bulan yang lalu, kita mungkin memiliki beberapa kekhawatiran tentang pasokan minyak, tetapi kami semakin yakin bahwa tidak akan ada masalah terkait minyak hingga musim panas ini.”

Sorahan menambahkan, Ryanair tidak terlalu cemas mengenai kelangkaan pasokan karena ketergantungan wilayah Eropa terhadap Selat Hormuz kini kian menyusut. Perusahaan telah berhasil mengamankan jalur pasokan alternatif dari negara-negara produsen di benua Amerika, seperti Amerika Serikat, Venezuela, dan Brasil.

“Meskipun demikian, saya pikir harga akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, yang menempatkan Ryanair pada posisi yang sangat kuat, mengingat lindung nilai bahan bakar kami yang kuat,” imbuhnya.

Baca Juga :  Sacha Inchi Oil, Superfood dengan 5 Manfaat Hebat untuk Pencernaan dan Jantung

Efek Domino Kebangkrutan Maskapai Lemah

Kekhawatiran akan tumbangnya maskapai penerbangan bukan sekadar isapan jempol. Sinyal bahaya ini sebelumnya juga telah ditiupkan oleh CEO Ryanair, Michael O’Leary. Fenomena ini sudah memakan korban di belahan dunia lain, salah satunya Spirit Airlines asal AS yang baru saja mengajukan petisi kebangkrutan setelah tercekik lonjakan harga avtur yang memperparah beban utang mereka.

“Saya pikir akan ada kegagalan,” kata O’Leary memperingatkan.

“Jika harga terus berlanjut di US$150 per barel hingga Juli, Agustus, September, maka Anda akan melihat maskapai penerbangan Eropa gagal dan itu, dalam jangka menengah, mungkin akan baik untuk bisnis Ryanair,” jelasnya.

Ketika maskapai lain mulai megap-megap, kinerja keuangan Ryanair justru terpantau masih sangat kokoh. Pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu, Ryanair membukukan lonjakan laba setelah pajak sebesar 40%, dengan nilai menembus hampir 2,3 miliar euro.

Pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan volume penumpang sebesar 4% hingga menyentuh angka 208,4 juta orang, meskipun secara total pendapatan mereka terkoreksi tipis 11% menjadi 15,54 miliar euro.

Strategi Harga di Tengah Ketidakpastian Musim Panas

Baca Juga :  Pemkab Bogor dan IPB University Terus Tingkatkan Sinergi Bangun Kabupaten Bogor

Terkait kebijakan tarif menghadapi musim puncak liburan, manajemen Ryanair mengonfirmasi tidak ada rencana pembatalan penerbangan dan tetap optimistis. Walau sebelumnya sempat memproyeksikan adanya kenaikan harga tiket musim panas, Ryanair kini memperkirakan tarif akan cenderung stabil akibat dinamika pasar yang berubah.

Berdasarkan analisis pasar, konsumen kini cenderung menunda pembelian dan lebih banyak melakukan pemesanan di detik-detik terakhir (menit terakhir), yang pada gilirannya mengurangi visibilitas proyeksi jangka panjang maskapai.

Analis dari Citi dalam catatan resminya pada hari Senin mengonfirmasi bahwa pergeseran perilaku konsumen ini memaksa Ryanair untuk menyesuaikan strategi penjualan mereka.

“Ryanair terpaksa menurunkan harga untuk menarik pelanggan di awal musim panas, tetapi harga akan terlihat mirip dengan tahun lalu pada kuartal kedua perusahaan,” tulis analis Citi.

“Perusahaan mengindikasikan permintaan perjalanan S26 [Musim Panas 2026] ‘kuat’ tetapi pemesanan lebih dekat dari biasanya dan harga telah turun dalam beberapa minggu terakhir karena ketidakpastian ekonomi terkait harga bahan bakar, inflasi, dan kekhawatiran akan kekurangan bahan bakar,” pungkasnya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com