NARASITODAY.COM, TEHERAN – Di balik tembok-tembok tinggi kantor pemerintahan di Teheran dan riuhnya pasar tradisional yang mulai melesu, Republik Islam Iran sedang memainkan permainan bertahan yang panjang. Meski konflik bersenjata selama beberapa pekan terakhir telah mengguncang pondasi ekonominya yang rapuh, Iran menunjukkan ketangguhan yang tak terduga di tengah blokade total Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Sejak gencatan senjata parsial pada 8 April lalu, dentuman meriam memang mulai mereda. Namun, perang urat syaraf baru saja dimulai. Dengan Selat Hormuz yang tetap tertutup dan pelabuhan-pelabuhan utama yang dikepung armada Washington, Iran kini mengandalkan strategi yang mereka sebut sebagai “Ekonomi Perlawanan.”
Akar Ketangguhan: Perdagangan Darat dan Cadangan Emas
Berbeda dengan perkiraan banyak ekonom Barat, Teheran tidak langsung tumbang meski ekspor energinya dipangkas habis. Iran beralih ke jalur-jalur darat dan koneksi regional untuk bernapas. Perdagangan lintas batas dengan Turki, Irak, dan Pakistan tetap stabil, sementara Rusia mulai meningkatkan pengiriman komoditas vital seperti gandum dan jagung melalui jalur alternatif Laut Kaspia.
Sanam Vakil, Kepala Program Timur Tengah di Chatham House, menilai para pemimpin Iran telah memperhitungkan napas ekonomi mereka dengan sangat cermat.
“Para pemimpin Iran telah menghitung ketahanan ekonomi mereka lebih panjang dibanding perkiraan banyak ekonom Barat,” ujar Sanam Vakil.
Ketahanan ini juga ditopang oleh stok pangan domestik yang cukup berkat hasil panen yang membaik tahun ini, serta cadangan emas yang besar untuk menjaga stabilitas devisa tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dolar hasil minyak.
Realita di Lantai Pasar
Namun, statistik makro sering kali gagal menangkap kepedihan di tingkat akar rumput. Di sudut-sudut kota Teheran, tekanan ekonomi terasa nyata dan menyesakkan. Inflasi yang tinggi dan gangguan rantai pasok telah menghantam daya beli masyarakat.
Abbas Smaeelzade, seorang pedagang beras di Teheran, mengeluhkan penurunan omzet yang drastis sejak konflik memuncak.
“Penjualan saya turun hingga 40% sejak konflik dimulai,” ungkap Abbas Smaeelzade.
Kondisi serupa dialami oleh para pekerja jasa. Hossein Amiri, seorang mekanik lokal, mengaku usahanya hampir berhenti total karena pelanggan tak lagi punya uang untuk merawat kendaraan mereka.
Indikator yang Masih Bertahan
Meski PDB Iran diprediksi akan menyusut dua digit dan mata uang rial kembali melemah hingga 15% dalam hitungan hari, tanda-tanda “kiamat fiskal” belum terlihat secara fisik. Hingga saat ini, pemerintah belum merasionalkan bahan bakar, supermarket masih terisi stok barang, dan gaji pegawai negeri tetap dibayarkan tepat waktu.
Akan tetapi, waktu terus berjalan. Dengan ekspor minyak yang merosot dari 1 juta barel menjadi hanya 300.000 barel per hari, kapasitas penyimpanan Iran diperkirakan hanya akan bertahan selama dua bulan ke depan tanpa penyesuaian besar.
Mencari Jalan Keluar
Para analis sepakat bahwa ketahanan ini memiliki batas akhir. Tanpa adanya pelonggaran sanksi dari Washington dan akses kembali ke cadangan devisa di luar negeri, Iran berisiko menghadapi gelombang protes besar-besaran dari rakyatnya sendiri yang mulai kelelahan.
Kunci utama pemulihan tetap berada pada meja diplomasi. Tanpa kesepakatan permanen yang mencakup akses ekspor minyak secara bebas, “ekonomi perlawanan” Iran mungkin hanya akan menjadi strategi menunda krisis yang lebih dalam, bukan menyelesaikannya.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














