NARASITODAY.COM, SYDNEY — Tingkat pengangguran di Australia mengalami kenaikan tak terduga pada September 2025, mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya jumlah warga yang aktif mencari pekerjaan, memicu spekulasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan segera menurunkan suku bunga.
Menurut laporan Biro Statistik Australia (ABS) yang dirilis Kamis (16/10/2025), tingkat pengangguran naik menjadi 4,5%, melampaui proyeksi pasar sebesar 4,3% dan menjadi yang tertinggi sejak November 2021. Di sisi lain, tingkat partisipasi angkatan kerja meningkat menjadi 67%, sementara jumlah jam kerja naik 0,5% setelah sempat menurun pada bulan sebelumnya.
Laporan ketenagakerjaan juga mencatat penambahan bersih 14.900 pekerjaan pada bulan September, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 20.000. Dari jumlah tersebut, pekerjaan penuh waktu bertambah sebanyak 8.700 posisi, setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam.
Pertumbuhan lapangan kerja tahunan kini melambat ke angka 1,3%, jauh di bawah capaian 3,5% pada awal tahun. Kenaikan angka pengangguran ini langsung berdampak pada pasar keuangan. Probabilitas pemangkasan suku bunga oleh RBA pada pertemuan bulan November melonjak menjadi 71%, naik signifikan dari 40% sebelum data dirilis.
Investor menilai pelemahan kondisi pasar tenaga kerja dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut. Sebelumnya, RBA sempat menahan diri karena kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi dan konsumsi rumah tangga yang meningkat.
Sebagai respons pasar, dolar Australia melemah 0,4% menjadi US$0,6488. Sementara itu, obligasi pemerintah tenor tiga tahun menguat 10 tick ke level 96,62. Harapan terhadap stimulus moneter baru juga mendorong indeks saham acuan Australia mencetak rekor tertinggi.
RBA sebelumnya mempertahankan suku bunga di level 3,60% pada pertemuan September, setelah melakukan tiga kali penurunan sepanjang tahun ini. Data inflasi inti kuartal II menunjukkan penurunan menjadi 2,7%, kembali ke kisaran target bank sentral antara 2% hingga 3%. Namun, data bulanan terbaru mengindikasikan bahwa inflasi mungkin belum melandai lebih jauh pada kuartal III.
Gubernur RBA Michele Bullock menyatakan pada Kamis (16/10/2025) bahwa, “kenaikan konsumsi dan tekanan harga di beberapa sektor membuat bank sentral berhati-hati dalam menilai apakah pelonggaran lebih lanjut masih diperlukan.”***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














