NARASITODAY.COM, HALMAHERA UTARA – Langit di atas Pulau Halmahera mendadak kelabu saat Gunung Dukono memuntahkan kolom abu setinggi 10 kilometer ke angkasa, Jumat (8/5/2026) pagi. Di balik kemegahan fenomena alam tersebut, sebuah tragedi memilukan terjadi; tiga nyawa melayang setelah menerjang larangan pendakian demi mencapai puncak salah satu gunung api paling aktif di Indonesia itu.
Letusan eksplosif yang terjadi pada pukul 07.41 WIB itu menghantam rombongan berisi 20 pendaki asal Singapura dan Indonesia. Kapolres Halmahera Utara, Erlichson Pasaribu, mengonfirmasi bahwa korban jiwa terdiri dari dua pria warga negara Singapura berusia 30 dan 27 tahun, serta seorang perempuan lokal asal Ternate.
Mengabaikan Alarm Alam
Meski spanduk larangan dan peringatan di media sosial telah disebar luas, pesona Dukono tampaknya terlalu kuat untuk diabaikan. Padahal, otoritas setempat telah menetapkan radius bahaya sejauh 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang sejak 17 April lalu.
Seorang pemandu wisata, Alex Djangu, menceritakan firasat buruknya sesaat sebelum bencana. “Ini pertama kalinya saya melihatnya begitu tenang. Saya mengatakan kepada para tamu bahwa akan terjadi letusan besar karena gunung berapi sedang mengumpulkan tekanan di dasar kawah. Dan prediksi saya ternyata benar,” ungkap Alex kepada AFP, Sabtu (9/5/2026).
Alex yang saat itu membawa tamu asal Jerman melihat setidaknya 15 orang berada tepat di bibir kawah saat dentuman keras pertama memecah keheningan pagi. Beruntung, ia berada di radius aman. Namun, bagi tiga korban lainnya, posisi mereka terlalu dekat dengan maut.
Evakuasi yang Menegangkan
Proses evakuasi jenazah hingga kini masih terkendala oleh amukan gunung yang belum reda. Hingga Jumat sore, material batu dan abu vulkanik masih terus terlontar dari perut bumi.
“Pencarian telah ditutup sementara hari ini dan akan dilanjutkan besok, bukan karena kami tidak ingin mencari di malam hari, tetapi karena Gunung Dukono akan terus meletus,” ujar Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani.
Kesulitan medan ditambah semburan material pijar membuat tim penyelamat harus ekstra waspada. Aldy Salabia, seorang warga lokal yang berjaga di pos perlindungan, menggambarkan situasi mencekam di lapangan. “Dari pos perlindungan, kami bisa melihat abu dan material batu terus-menerus terlontar,” katanya.
Pakar bencana menyayangkan maraknya aksi nekat pendaki yang dipicu oleh tren di media sosial. Dr. Daryono dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia menilai, video influencer yang berhasil mendaki gunung aktif sering kali memberikan rasa aman palsu kepada publik.
“Di media sosial, publik sering melihat video para pendaki atau influencer yang berhasil naik dan turun dengan selamat. Konten seperti itu perlahan menciptakan persepsi risiko yang keliru,” tegas Daryono. Ia mengingatkan bahwa gunung berapi aktif bukanlah destinasi wisata biasa yang bisa diprediksi sepenuhnya.
Senada dengan hal itu, Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, menekankan bahwa status Level II (Waspada) Dukono seharusnya menjadi rambu keras bagi siapa pun. “Dukono adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia,” cetusnya, merujuk pada catatan lebih dari 200 kali letusan sejak Maret tahun lalu.
Konsekuensi Hukum
Tragedi ini kini memasuki ranah hukum. Basarnas mensinyalir adanya unsur kelalaian besar dari pihak operator wisata maupun individu pendaki yang tetap memaksakan masuk ke zona merah. Saat ini, pemandu rombongan dan seorang porter telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan terancam tuntutan pidana atas pelanggaran prosedur keselamatan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.
Hingga berita ini diturunkan, empat pasien yang selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara tim SAR bersiap melanjutkan operasi berbahaya di bawah bayang-bayang dentuman Dukono yang masih bergema.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














