Efisiensi Korporasi, Starbucks Pangkas 300 Karyawan dan Tutup Kantor Regional

0
Starbucks
Ilustrasi Sebuah Toko Starbucks. Foto : tripadvisor.co.id

NARASITODAY.COM,SEATTLEĀ  – Aroma kopi yang selalu hangat di ribuan gerainya, atmosfer dingin justru menyelimuti lini manajemen Starbucks. Raksasa kopi global ini resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 300 karyawan di kantor pusat Amerika Serikat serta sejumlah kantor pendukung regionalnya. Langkah pahit ini diambil manajemen sebagai bagian dari strategi besar korporasi untuk merampingkan struktur organisasi.

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa restrukturisasi ini dilakukan karena Starbucks tengah berupaya keras untuk kembali ke koridor “pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” demikian diumumkan perusahaan pada Jumat pagi (15/5/2026).

Sebagai bagian dari perampingan ini, Starbucks mengonsolidasikan dan menutup beberapa kantor pendukung regional mereka di AS, termasuk fasilitas operasional yang berada di Atlanta, Burbank, Chicago, dan Dallas.

Badai efisiensi ini tampaknya belum akan mereda. Manajemen mengonfirmasi bahwa mereka juga tengah meninjau ulang organisasi pendukung internasionalnya dan memperkirakan kebijakan PHK serupa berpotensi melebar ke luar wilayah AS.

Baca Juga :  MENDIKDASMEN MEWAJIBKAN GURU IKUT PELATIHAN AGAR PENDIDIKAN SEMAKIN MAJU

Meski demikian, para penikmat kopi Starbucks tidak perlu khawatir akan adanya perubahan layanan di meja kasir. Pihak perusahaan menegaskan bahwa langkah-langkah efisiensi ini tidak akan berdampak pada operasional kedai kopi mereka di lapangan.

Ambisi di Balik Pembengkakan Biaya

Realitas di balik meja pimpinan menunjukkan bahwa beban operasional Starbucks memang terus membubung tinggi dalam beberapa kuartal terakhir. Kondisi ini dipicu oleh manuver sang CEO, Brian Niccol, yang jeli dan agresif dalam memulihkan performa inti perusahaan pada gerai kopi ritel. Strategi Niccol tersebut mencakup investasi besar-besaran untuk menambah jumlah staf barista di garda depan demi mendongkrak kepuasan pelanggan.

Strategi tersebut sebenarnya mulai menunjukkan taji. Bulan lalu, para eksekutif perusahaan mengapresiasi pencapaian yang mereka sebut sebagai tonggak penting dalam pemulihan kinerja perusahaan.

Baca Juga :  Manajemen Pedal Padel Buka Suara Terkait Dugaan Penyekapan Karyawan yang Dituduh Mencuri Raket

Starbucks sukses mencatatkan pertumbuhan penjualan terkuat dalam lebih dari dua tahun terakhir, meskipun di sisi lain, margin laba operasional mereka tergerus hingga hampir setengahnya sejak proyek pemulihan ini digulirkan pada akhir tahun 2024.

Guna memuluskan proses transisi bagi para pekerja yang terdampak, perusahaan memperkirakan akan menggelontorkan dana sekitar US$120 juta (sekitar Rp 1,9 triliun) dalam bentuk uang pesangon.

Tidak hanya itu, Starbucks juga akan memangkas nilai buku sejumlah aset propertinya sebesar US$280 juta, yang mayoritasnya mencakup lokasi cadangan (reserve) dan tempat pemanggangan kopi (roastery), serta beberapa fasilitas pendukung non-ritel.

Eksodus ke Nashville dan Bonus Para Bos

Di tengah penutupan kantor di berbagai kota besar, Starbucks sebenarnya sedang menyiapkan rumah baru yang lebih megah. Bulan lalu, korporasi mengumumkan investasi jumbo senilai US$100 juta untuk memperluas cengkeraman bisnis mereka di wilayah Tenggara AS.

Baca Juga :  Bosch Umumkan PHK 13.000 Karyawan, Efisiensi Jadi Fokus di Tengah Tekanan Industri Otomotif

Proyek ini mencakup pembangunan kantor pusat baru yang dinamis di Nashville, Tennessee, yang diproyeksikan mampu menampung hingga 2.000 karyawan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Namun, kontrasnya kebijakan efisiensi ini melahirkan dinamika tersendiri di lingkungan internal. Di saat ratusan karyawan kehilangan pekerjaan, para eksekutif puncak Starbucks justru berpotensi meraup penghargaan masing-masing sebesar US$6 juta.

Bonus fantastis ini akan cair jika target pemangkasan biaya tertentu berhasil dicapai pada tahun 2027, sesuai dengan rencana insentif yang telah disetujui oleh dewan perusahaan pada musim panas lalu.

PHK kali ini menambah panjang daftar restrukturisasi yang harus dialami oleh para pekerja kantoran Starbucks sejak program pemulihan korporasi dimulai. Sebelumnya, ketidakpastian serupa juga telah memukul jajaran staf korporat ketika perusahaan merumahkan 1.100 karyawannya pada Februari tahun lalu.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber