NARASITODAY.COM, BEIJINGĀ – Sebuah lowongan pekerjaan sebagai penggembala domba di wilayah padang rumput terpencil selatan Mongolia mendadak viral di media sosial China, Weibo. Fenomena ini memicu perhatian luas karena merefleksikan betapa sulit dan kompetitifnya kondisi pasar tenaga kerja di Negeri Tirai Bambu saat ini.
Iklan lowongan kerja yang diunggah akhir April lalu oleh seorang pemilik peternakan bernama Zuo Xiaoyong tersebut berhasil meraup 59 juta tayangan hanya dalam hitungan jam dan memicu lebih dari 21.000 utas diskusi. Sebanyak lebih dari 700 orang berebut untuk mengisi dua posisi yang tersedia.
āSaya tidak menyangka lowongan ini akan menjadi viral,ā ujar Zuo Xiaoyong terkejut.
Para pelamar datang dari berbagai latar belakang, mulai dari buruh pabrik, lulusan universitas, hingga pekerja kantoran dari kota-kota megapolitan seperti Shanghai dan Chongqing.
Zuo mengungkapkan bahwa sekitar sepersepuluh pelamar merupakan fresh graduate, sementara sisanya adalah mereka yang terlilit utang, kelelahan akibat politik kantor, atau tertekan oleh beban kerja industri yang ekstrem.
āSepertinya masyarakat biasa sedang kesulitan mencari pekerjaan,ā lanjut Zuo.
Di balik viralnya lowongan ini, ada kisah tentang kejenuhan massal para pekerja China terhadap budaya kerja ā996ā bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam, 6 hari seminggu serta momok tersembunyi bernama “Kutukan Usia 35 Tahun”. Istilah terakhir merujuk pada fenomena di mana perusahaan-perusahaan di China mulai enggan merekrut pekerja yang telah berusia di atas 35 tahun.
Dosen senior manajemen sumber daya manusia di Victoria University of Wellington, Christian Yao, membenarkan pergeseran ini.
āKami melihat ākutukan usia 35 tahunā berubah dari sekadar meme di sektor teknologi menjadi realitas ekonomi yang lebih luas,ā ujar Christian Yao.
Setengah dari pelamar lowongan Zuo nyatanya lahir pada era 1990-an dan berada di pusaran usia kritis tersebut. Salah satunya adalah Wu (28), seorang pekerja kantoran di sektor e-commerce. Meski mengantongi gaji 10.000 yuan per bulan, Wu mengaku sudah muak dengan kehidupan urban.
āSaya ingin melarikan diri dari kehidupan kota dan berhenti menghadapi berbagai tipe orang yang sulit,ā ujar Wu. āSaya bisa menikmati hidup yang tenang dan terpencil jauh dari hiruk-pikuk dunia,ā lanjutnya.
Kondisi serupa dirasakan James Guo (21). Baginya, tawaran menjadi penggembala adalah gerbang keluar dari jerat pabrik kontainer yang menyiksa fisik.
āAnda tidak tahu bagaimana rasanya bekerja lebih dari 13 jam sehari, memasang sekrup sampai tangan bengkak dan penuh lecet, bahkan tidak punya waktu pergi ke toilet,ā ungkap Guo dengan getir. āBeban kerjanya terlalu berat, saya sudah tidak tahan lagi,ā keluhnya.
Gaji Menggiurkan di Tengah Krisis Ekonomi
Zuo menawarkan gaji sebesar 8.000 yuan (sekitar US$ 1.178) per bulan untuk masing-masing pekerja, lengkap dengan fasilitas tempat tinggal dan bahan makanan gratis. Angka ini jauh melampaui rata-rata gaji pekerja swasta perkotaan di China yang berkisar di angka 6.000 yuan.
Managing Director China Market Research Group, Shaun Rein, menjelaskan mengapa nilai tersebut menjadi magnet besar, bahkan bagi kaum intelektual. Menurutnya, lulusan magister dari universitas ternama di Shanghai pun banyak yang mencari pekerjaan dengan kisaran gaji serupa. Namun bedanya, di kota besar, pendapatan mereka habis terkuras hanya untuk menyewa apartemen sempit dan bertahan hidup.
Ekonom Kepala China di ING, Lynn Song, menilai besarnya antusiasme ini adalah alarm bagi potret makro ekonomi China saat ini. Pertumbuhan ekonomi China sebesar 5% kini sangat bertumpu pada ekspor, membuat produsen domestik menekan biaya dan mengorbankan kesejahteraan buruh demi bersaing di pasar global. ditambah lagi, ada ancaman kecerdasan buatan (AI) serta masuknya rekor 12,7 juta lulusan universitas baru musim panas ini.
āFenomena ini menjadi gejala dari pasar tenaga kerja yang sangat kompetitif dan sering kali memberikan imbal hasil rendah,ā kata Song. āPekerjaan di perkotaan menjadi semakin kurang menarik dan semakin langka,ā tambahnya.
Realitas Padang Rumput: Bukan Tempat Wisata
Kendati terlihat seperti pelarian yang indah, Zuo mengingatkan bahwa pekerjaan ini menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Sang penggembala harus mengurus 3.000 ekor domba di lahan seluas 2.000 hektare. Ketika musim dingin tiba, suhu udara bisa merosot ekstrem hingga di bawah minus 30 derajat Celsius, dan pekerja wajib melakukan aktivitas berat di dalam ruangan.
āGajinya memang tinggi, tetapi yang paling penting adalah apakah seseorang mampu bertahan bekerja dalam jangka panjang dan melewati musim dingin,ā kata Zuo yang juga beternak 200 ekor sapi. āIni bukan wisata,ā tegasnya.
Pada akhirnya, realitas mengalahkan romantisasi para pemuda kota. Zuo memutuskan menolak lamaran anak muda perkotaan maupun pelamar lajang. Ia memilih merekrut empat orang penggembala yang terdiri dari dua pasangan suami istri kelahiran 1980-an yang telah memiliki pengalaman kerja di peternakan.
Zuo, yang masih menyimpan 40 pasangan lain di daftar cadangan, menutup kisahnya dengan sebuah peringatan tentang kesunyian yang absolut di padang rumput Mongolia.
āDi tempat kami, Anda mungkin tidak akan bertemu orang lain selama satu tahun penuh,ā pungkas Zuo. āApakah seseorang mampu menahan kesepian seperti itu, saya tidak tahu.ā.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














