NARASITODAY.COM – Pemerintah China telah mengevakuasi lebih dari 278.000 warga dari wilayah selatan menyusul ancaman serius Topan Wipha yang diperkirakan membawa angin kencang, hujan deras, dan potensi bencana lainnya.
Topan ini diprediksi akan menghantam Provinsi Guangdong pada Kamis sore atau malam, setelah Badan Meteorologi Tiongkok mengeluarkan peringatan oranye tingkat kedua tertinggi dalam sistem mereka.
“Pusat dari Topan Wipha terdeteksi berada 190 kilometer tenggara Kota Zhuhai, dengan kecepatan angin mencapai 118 km/jam,” demikian laporan resmi yang mencatat peningkatan intensitas badai dan menyebutnya sebagai salah satu yang paling kuat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelum evakuasi massal berlangsung, lebih dari 12.000 penduduk pesisir telah dipindahkan ke lokasi aman. Sisanya, sekitar 266.000 warga dari daratan juga dievakuasi sebagai langkah antisipatif. Pemerintah daerah melakukan berbagai tindakan darurat, termasuk penutupan sekolah, tempat usaha, dan pembatalan sejumlah penerbangan demi meminimalkan risiko.
Di Hong Kong, status peringatan cuaca ditingkatkan ke level 10 tingkat tertinggi untuk pertama kalinya sejak Topan Super Saola pada 2023. “Peningkatan peringatan tersebut menunjukkan potensi yang signifikan dari Topan Wipha untuk memberikan dampak yang merugikan bagi penduduk,” menurut pernyataan pihak berwenang.
Badan Meteorologi Tiongkok memperkirakan curah hujan ekstrem antara 250–320 mm di sejumlah wilayah. Tindakan pencegahan telah dilakukan, seperti penangguhan layanan kereta api oleh Guangzhou Railway Group pada 20–21 Juli dan penutupan terminal jalan tol Zhuhai Expressway. Aktivitas publik di kota-kota seperti Zhuhai, Yangjiang, dan Shenzhen dihentikan total. Shenzhen juga membuka tempat penampungan darurat dan menutup taman umum.
Sementara itu, laporan dari Pusat Prakiraan Hidro-Meteorologi Nasional Vietnam mengungkap bahwa Topan Wipha masih berada di Laut Timur bagian utara dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan 20–25 km/jam. Hembusan angin terkuat di pusat badai tercatat di level 15, memperkuat kemungkinan dampak buruk di daerah yang dilintasi.
Badai ini diperkirakan akan melintasi Semenanjung Leizhou, mencapai Teluk Tonkin pada 21 Juli, dan melemah menjadi depresi tropis saat memasuki wilayah Laos Hulu pada 23 Juli.
Pemerintah China dan Vietnam terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap banjir, tanah longsor, dan angin ekstrem. Mereka menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas utama.
“Keberlanjutan dan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama, dan pemerintah berupaya melakukan segala yang diperlukan untuk melindungi warganya dari bahaya yang ditimbulkan oleh Topan Wipha,” tegas pernyataan resmi.***
Ikuti Berita : Google News
Ikuti Saluran WhatsApp: Narasitoday














