
NARASITODAY.COM, SEOUL – Harapan untuk melihat Korea Utara kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat tampaknya harus disimpan rapat-rapat. Negara paling terisolasi di dunia itu kini secara tegas menutup pintu komunikasi dengan Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, dan Jepang. Alih-alih berdiplomasi, Pyongyang memilih membarikade diri di bawah doktrin kemandirian ekonomi dan penguatan taji militer.
Fakta tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, usai merampungkan lawatan diplomatiknya ke Korea Utara dan Korea Selatan pada 26-27 Mei 2026.
Melansir laporan Reuters berdasarkan transkrip resmi Kementerian Luar Negeri Singapura, Balakrishnan membeberkan bahwa konstelasi politik Korea Utara kini telah bergeser drastis, terutama dengan semakin mesranya hubungan mereka dengan Rusia.
Meski demikian, China dinilai tetap berada di posisi yang tak tergantikan bagi Pyongyang. Namun untuk urusan berdialog dengan blok Barat dan sekutunya, Korea Utara belum menunjukkan sinyal hijau sedikit pun.
Padahal, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung telah berulang kali menyuarakan ketertarikan mereka untuk duduk bersama sang pemimpin tertinggi, Kim Jong Un.
Kota Modern yang Angkuh dan Pudarnya Mimpi Reunifikasi
Ada pemandangan kontras yang ditangkap oleh Balakrishnan saat menginjakkan kaki di ibu kota Korea Utara. Di tengah sanksi ekonomi berlapis dan isolasi global yang kencang, Pyongyang justru bersolek menjadi kota yang megah, jauh dari kesan kumuh sebuah negara yang sedang dikucilkan.
“Ini adalah kota yang dapat disejajarkan dengan kota modern mana pun di Asia Tenggara maupun Asia Timur Laut,” puji Balakrishnan, menggambarkan kemajuan infrastruktur di sana.
Namun, di balik kemegahan arsitektur itu, ada atmosfer politik yang mendingin. Balakrishnan menyoroti perubahan radikal sikap Korea Utara terkait isu reunifikasi dengan Korea Selatan. Jika pada kunjungan terakhirnya di tahun 2018 harapan akan bersatunya dua Korea masih digandeng, kini mimpi itu telah mati. Pyongyang secara tegas menolak gagasan reunifikasi.
Langkah ini sejalan dengan manuver politik Kim Jong Un yang sebelumnya telah merevisi konstitusi negara. Amandemen tersebut secara resmi menghapus seluruh referensi mengenai unifikasi dan menegaskan garis perbatasan baru, yang mengukuhkan posisi bahwa kedua Korea adalah dua negara terpisah yang saling bertetangga—atau bahkan bermusuhan.
Orbit Rusia-China dan “Harga yang Tepat” bagi AS
Mesra berbalas budi kini menjadi potret hubungan Pyongyang dan Moskow. Kedekatan ini mengental setelah Korea Utara mengirimkan ribuan tentaranya untuk menyokong pasukan Rusia di medan laga Kursk.
Di sisi lain, China tidak mau kehilangan pengaruh. Beijing perlahan menarik kembali Pyongyang ke orbitnya dengan membuka kembali keran transportasi, ditandai lewat aktifnya kembali layanan kereta penumpang dan penerbangan lintas batas dalam beberapa bulan terakhir.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, yang menemui Balakrishnan pada Kamis, mengakui belum ada tanda-tanda Pyongyang akan melunak. Namun, Seoul menggunakan celah kunjungan Menlu Singapura tersebut untuk menegaskan komitmen mereka terhadap koeksistensi yang damai di semenanjung.
Dalam wawancaranya dengan kantor berita Yonhap yang dirilis Jumat, Cho melontarkan sebuah pandangan pragmatis. Menurutnya, peluang diplomasi sebenarnya belum sepenuhnya mati total. Cho menilai Korea Utara pada akhirnya kemungkinan akan bersedia kembali membuka ruang dialog dengan Washington, dengan satu syarat khusus.
“Jika harganya tepat,” cetus Cho Hyun terkait syarat kembalinya Korea Utara ke meja perundingan.
Sebagai langkah antisipasi, Cho juga telah meminta dukungan dari Singapura dan negara-negara ASEAN untuk membantu menjembatani kembali komunikasi yang mampet ini. Menanggapi hal tersebut, Balakrishnan menyatakan dirinya telah melayangkan undangan resmi kepada Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son Hui, untuk menghadiri ASEAN Regional Forum (ARF), dengan harapan Pyongyang mau sedikit membuka diri dan berinteraksi kembali dengan dunia internasional.
Ringkasan Sikap Politik & Pernyataan Tokoh
Untuk memahami peta geopolitik Korea Utara saat ini, berikut adalah rangkuman sikap resmi dan pernyataan para tokoh kunci:
Tabel 1. Sikap dan Posisi Domestik & Internasional Korea Utara
| Isu / Hubungan | Sikap dan Posisi Korea Utara |
| Dialog dengan AS | Belum berminat sama sekali. |
| Hubungan dengan Korea Selatan | Menolak keras gagasan reunifikasi; menganggap sebagai negara terpisah. |
| Hubungan dengan Jepang | Belum siap untuk membuka jalur komunikasi signifikan. |
| Hubungan dengan Rusia | Semakin erat dan mesra (diperkuat bantuan militer di Kursk). |
| Hubungan dengan China | Tetap dinilai sebagai mitra strategis yang tidak tergantikan. |
| Fokus Utama Saat Ini | Memperkuat kemandirian ekonomi dan kemampuan deterrence (penangkalan) militer. |
Tabel 2. Pernyataan Tokoh Terkait Eskalasi di Semenanjung Korea
| Tokoh | Jabatan / Posisi | Pernyataan Utama |
| Vivian Balakrishnan | Menlu Singapura | Korea Utara belum siap membuka komunikasi dengan AS dan Korsel, namun ibu kotanya berkembang sangat modern. |
| Donald Trump | Presiden AS | Tertarik dan berminat untuk menggelar pembicaraan langsung dengan Kim Jong Un. |
| Lee Jae Myung | Presiden Korea Selatan | Mendukung penuh dibukanya kembali dialog damai dengan Korea Utara. |
| Cho Hyun | Menlu Korea Selatan | Menilai Korea Utara bisa saja kembali berdialog dengan AS “jika harganya tepat”. |
| Kim Jong Un | Pemimpin Tertinggi Korut | Mendorong agar kedua Korea diperlakukan secara legal sebagai dua negara yang sepenuhnya terpisah. |
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id













