Demam Emas di Brasil Picu Kekacauan di Wilayah Adat Amazon

0
Brasil
Ilustrasi truk peralatan pertambangan dengan pemadangan langit sore.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, PARA  – Mengenakan hiasan kepala dari bulu merah yang mencolok, Kepala Suku Bepdjo Mekragnotire berdiri sebagai benteng terakhir bagi tanah leluhurnya. Di bawah rimbunnya kanopi hutan hujan Amazon, tepatnya di Wilayah Adat Bau, Negara Bagian Para, Brasil, ia memimpin langsung perburuan manusia. Musuh mereka adalah para penambang emas liar yang serakah, yang datang mengoyak tanah dan meracuni sungai demi memburu logam mulia.

Ketegangan di jantung Amazon ini kian memuncak seiring melonjaknya harga emas global ke rekor tertinggi baru akibat ketidakstabilan geopolitik dunia. Kilau harga emas tersebut bak magnet yang menarik para perambah ilegal masuk semakin dalam ke kawasan-kawasan konservasi yang relatif belum tersentuh.

Dalam empat tahun terakhir, Bepdjo dan kelompok prajuritnya dari suku Kayapo tercatat telah mengusir sedikitnya 200 penambang liar. Salah satu konfrontasi paling mendebarkan terjadi pada Februari lalu, ketika moncong senjata sempat saling diacungkan saat prajurit Kayapo menghadang rombongan penambang yang menggunakan kano.

“Para penambang itu keras kepala. Mereka masuk dengan cara apa pun. Karena saat ini harga emas sangat tinggi,” kata Bepdjo, dikutip AFP, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga :  Jaro Ade Tanggapi Keluhan Warga Ciburuy, Janjikan Pembangunan Infrastruktur dan Dukungan UMKM

“Kita harus mengusir mereka, kalau tidak, mereka akan terus menerobos masuk,” ujarnya menambahkan.

Suku Kayapo kerap kali harus bergerak dalam ketidakpastian di tengah hutan yang luas. “Kami tidak tahu berapa banyak penambang di dalam, kami hanya sampai di sana dan melihat,” tutur Bepdjo, menggambarkan bahaya yang mengintai setiap kali mereka berpatroli.

Gurita Bisnis Ilegal Berkedok “Tambang Hantu”

Skala kerusakan di paru-paru dunia ini memang mengerikan. Data dari Amazon Mining Watch mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2018 hingga 2025, aktivitas pertambangan telah merusak area seluas 223.000 hektar di Brasil. Ironisnya, hampir 80 persen dari aktivitas tersebut berstatus ilegal.

Praktik destruktif ini tumbuh subur saat mantan presiden Jair Bolsonaro memimpin, yang dinilai melanggengkan iklim impunitas bagi para perusak lingkungan. Ketika Presiden sayap kiri Luiz Inacio Lula da Silva menjabat pada tahun 2023, penindakan tegas mulai digalakkan.

Namun, para cukong tambang tidak tinggal diam. Bisnis yang awalnya berskala tradisional kini telah bermutasi menjadi industri bernilai jutaan dolar yang dilengkapi mesin-mesin berat dan armada pesawat terbang kecil.

Baca Juga :  Sisca Saras Membagi Pengalaman Hubungan Tak Selaras Lewat Single 'Cinta Setara'

“Para penambang mundur semakin dalam ke hutan,” kata Nilton Tubino, kepala operasi perlindungan wilayah adat bentukan pemerintah Lula.

“Kami terus-menerus bergulat dengan tantangan yang ditimbulkan oleh skala wilayah yang sangat besar ini… dan kapasitas organisasi untuk dengan cepat membangun kembali apa yang telah kami hancurkan,” keluhnya.

Untuk membendung “demam emas baru” ini, Brasil tengah menggodok undang-undang pelacakan emas yang lebih ketat, termasuk membangun laboratorium “DNA” emas untuk mengidentifikasi asal-usul bijih emas hingga ke titik koordinatnya di Amazon.

Namun, kebijakan ini melahirkan babak krisis baru. Menurut analisis Institut Escolhas, pengetatan jalur resmi justru membuat emas-emas ilegal tersebut diselundupkan keluar Brasil melalui negara tetangga seperti Guyana atau Venezuela.

Modus “pencucian emas” pun kian canggih, salah satunya melalui “tambang hantu” lokasi yang memiliki izin resmi dan melaporkan penjualan, namun saat dipantau dari udara, tidak ada aktivitas penambangan sama sekali di sana.

Baca Juga :  Skandal Kripto $MELANIA Seret Nama Melania Trump, Investor Tuding Manipulasi Harga

Danicley de Aguiar, koordinator kampanye Masyarakat Adat Greenpeace Brasil, meyakini bahwa skema licik inilah yang digunakan untuk mencuci emas hasil jarahan dari kawasan lindung. Sebagai catatan, Brasil memproduksi 71 ton emas pada tahun 2025, dengan pasar ekspor utama mencakup Kanada, Swiss, dan Inggris.

Sisi Lain dari Garis Batas

Di sudut lain, fenomena ini menyisakan dilema ekonomi sosial yang rumit. Fernando Lucas, Presiden Federasi Koperasi Penambang Emas di Para, menyuarakan rasa frustrasinya atas stigma negatif yang melekat pada profesi mereka. Menurutnya, banyak penambang yang sebenarnya ingin merubah nasib secara legal.

“Tetapi terjebak dalam birokrasi dan menyerukan model yang lebih terorganisir dan berkelanjutan,” tambah Lucas.

Kendati demikian, bagi Bepdjo Mekragnotire dan suku Kayapo, birokrasi dan urusan ekonomi makro adalah urusan sekian. Selama alat-alat berat masih mengeruk tanah adat mereka dan merkuri masih mencemari air minum mereka, busur panah dan senapan akan tetap mereka panggul demi menjaga warisan leluhur dari kepunahan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com