NARASITODAY.COM, YUNNAN – Sektor pertambangan China kembali memakan korban. Sebuah poros tambang runtuh di tengah operasi penambangan ilegal di Kabupaten Huize, Provinsi Yunnan, wilayah barat daya China. Insiden maut yang terjadi pada Minggu (31/5/2026) dini hari sekitar pukul 04.30 waktu setempat ini menewaskan lima orang pekerja dan melukai satu orang lainnya.
Kecelakaan ini terjadi di tengah atmosfer duka yang masih menyelimuti industri pertambangan negeri tirai bambu, hanya berselang beberapa hari setelah tragedi tambang paling mematikan di China sejak tahun 2009.
Hingga kini, otoritas setempat masih menutup rapat informasi mengenai jenis mineral yang sedang digali secara ilegal saat struktur tambang tersebut runtuh menimbun para pekerja.
Evakuasi di Keheningan Subuh
Menurut laporan dari kantor berita pemerintah China, Xinhua, petugas penyelamat bergerak cepat di kegelapan subuh untuk mengeluarkan para korban dari runtuhan tanah dan batu.
Enam orang pekerja berhasil dievakuasi dari dalam reruntuhan poros tambang dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun, takdir berkata lain bagi mayoritas dari mereka.
Hanya satu orang yang berhasil lolos dari maut. Lima rekannya dinyatakan meninggal dunia akibat luka-luka yang terlalu parah. Berdasarkan informasi medis terbaru, satu-satunya korban selamat saat ini berada dalam kondisi stabil dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Pihak berwenang China bergerak cepat dengan meluncurkan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti ambruknya poros tambang ilegal tersebut. Kendati demikian, insiden di Yunnan ini semakin memperpanjang daftar hitam keselamatan kerja di sektor pertambangan domestik yang kerap mengabaikan nyawa demi keuntungan instan.
Bayang-Bayang Tragedi Shanxi
Insiden tragis di Yunnan ini meletus tidak lama setelah publik China diguncang oleh ledakan gas dahsyat di sebuah tambang batu bara di Provinsi Shanxi, China utara, pada 22 Mei lalu.
Tragedi di Shanxi tersebut tercatat sebagai salah satu lembaran paling kelam dalam sejarah pertambangan modern China, menewaskan sedikitnya 82 orang, menyebabkan 128 orang luka-luka, dan meninggalkan dua orang lainnya yang hingga kini masih dinyatakan hilang di dalam perut bumi.
Menanggapi rentetan bencana ini, Pemerintah China berjanji akan melakukan investigasi mendalam dan menyeluruh terhadap kecelakaan besar yang terjadi di Shanxi.
Temuan awal dari tim penyelidik di lapangan pun mengungkap fakta yang mengejutkan terkait buruknya sistem keselamatan kerja. Penyelidikan awal tersebut membeberkan adanya sejumlah pelanggaran regulasi yang sangat serius, termasuk keberadaan terowongan rahasia yang tidak tercatat dalam dokumen resmi, hilangnya perangkat pelacak keselamatan pekerja, hingga penemuan pintu palsu yang sengaja dibangun di area tambang untuk mengelabui petugas inspeksi.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














