Menkeu Pastikan APBN Tetap Aman, Pertumbuhan Pajak Mei 2026 Tembus 22,1 Persen

0
APBN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto : kliksumut.com

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Pemerintah memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih berada dalam jalur yang sehat meski perekonomian global dibayangi ketidakpastian dan nilai tukar rupiah menghadapi tekanan.

Keyakinan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelang pengumuman resmi kinerja APBN hingga Mei 2026 yang akan dipaparkan dalam konferensi pers APBN KiTa, Jumat (5/6/2026).

Di tengah berbagai tantangan ekonomi global, pemerintah menilai sejumlah indikator fiskal justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pertumbuhan penerimaan pajak yang melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Purbaya menegaskan masyarakat maupun pelaku pasar tidak perlu khawatir terhadap kondisi keuangan negara saat ini karena fundamental fiskal dinilai masih kuat.

“Fiskalnya kan bagus. Besok ada itu, (konferensi pers) APBN KiTa. Anda boleh tanya lagi di situ, saya jelaskan lagi. Kalau enggak saya ngulang lagi ini, tapi pada dasarnya aman,” ujar Purbaya kepada awak media, Kamis (4/6/2026).

Baca Juga :  Eksodus Jutawan Norwegia Kian Meluas, Pemerintah Tambah Pemasukan dari Pajak Kekayaan

Menurut dia, pemerintah akan memaparkan secara rinci berbagai perkembangan ekonomi dan fiskal terkini dalam konferensi pers tersebut, termasuk sejumlah indikator yang menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi mulai bergerak ke arah yang lebih baik, sejalan dengan meningkatnya penerimaan negara yang menjadi salah satu penopang utama APBN.

“Dan kita jelaskan cara-cara tahun ini maupun tahun depan dan semua termasuk perbaikan kondisi ekonomi kita, pertumbuhan yang membaik dibanding tahun lalu dan pertumbuhan penerimaan yang signifikan,” katanya.

Salah satu kabar positif yang akan disampaikan pemerintah adalah lonjakan penerimaan pajak pada Mei 2026. Angka tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi dan kepatuhan perpajakan menunjukkan tren yang membaik.

“Mei itu pertumbuhan pajaknya 22,1%, jadi jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu. Itu satu hal yang menggembirakan. Jadi itu yang saya sampaikan ke mereka, nanti mereka akan menilai,” tambah Purbaya.

Baca Juga :  Visa Dicabut Gara-gara Kritik di Media Sosial, Serikat Buruh AS Ajukan Gugatan

Meski penerimaan negara mengalami peningkatan, pemerintah mengakui posisi defisit APBN hingga Mei 2026 sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kenaikan tersebut masih berada dalam batas yang dinilai aman dan terkendali.

“Di bulan Mei, defisitnya naik sedikit dibanding April ke 0,7%. Tapi kan kalau itu kan lima bulan, yang itu kan empat bulan,” jelasnya.

Purbaya menjelaskan, jika rasio defisit tersebut dihitung secara sederhana dalam basis tahunan, maka angkanya masih jauh di bawah batas defisit yang selama ini menjadi acuan pemerintah dalam menjaga kesehatan fiskal.

“Kalau kita hitung 12 per 5 kali 0,7%, kasarnya ya, antara 1,7%-1,8% terhadap PDB rasio defisitnya. Jadi kalau hitungan kasar seperti itu aman,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perhitungan kondisi APBN tidak bisa dilakukan secara linear karena pola penerimaan dan belanja negara selalu berubah setiap bulan. Faktor musiman, jadwal belanja pemerintah, hingga dinamika ekonomi nasional maupun global dapat memengaruhi posisi fiskal dalam periode tertentu.

Baca Juga :  Ratusan Palem Tua di Kawasan Pemkab Bogor Akan Dievaluasi

Karena itu, pemerintah lebih menekankan pada tren keseluruhan dibandingkan melihat satu indikator secara terpisah.

“Tetapi nanti tidak seperti itu ngitungnya, akan bervariasi dari bulan ke bulan. Cuma sampai sekarang sih masih aman karena income kita tumbuhnya di atas perkiraan banyak orang,” kata Purbaya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal optimisme pemerintah menjelang publikasi resmi APBN KiTa Mei 2026. Di tengah tantangan ekonomi global yang masih membayangi berbagai negara, pertumbuhan penerimaan pajak yang kuat dan defisit yang tetap terkendali dinilai menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga stabilitas fiskal sekaligus mendukung agenda pembangunan dan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini maupun tahun depan.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id