Terjepit Birokrasi AS, Iran Resmi Protes ke FIFA Terkait Pembatasan Perjalanan Piala Dunia 2026

0
Iran
Ilustrasi Piala. Foto : FIFA

NARASITODAY.COM,LOS ANGELESKetegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kini resmi merambah ke dalam lapangan hijau Piala Dunia 2026. Merasa diperlakukan tidak adil akibat pembatasan visa dan aturan perjalanan yang ketat dari otoritas Amerika Serikat, Federasi Sepak Bola Iran mengumumkan akan mengajukan pengaduan resmi kepada Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA).

Di balik megahnya panggung Piala Dunia, tim nasional Iran harus menjalani realitas yang melelahkan. Akibat ketidakpastian izin masuk dan konflik diplomatik yang berkepanjangan dengan AS, alih-alih fokus berlatih, skuad Iran dipaksa bolak-balik melintasi perbatasan dari markas turnamen mereka di Meksiko menuju Amerika Serikat hanya untuk melakoni tiga pertandingan babak penyisihan grup.

Aturan ketat Washington mengharuskan tim Iran hanya boleh memasuki wilayah AS dalam waktu 24 jam sebelum laga dimulai, dan wajib angkat kaki dari negara tersebut pada hari yang sama setelah peluit panjang berbunyi. Kondisi inilah yang memicu kekecewaan mendalam dari sang arsitek tim, Amir Ghalenoei, yang menyebut Iran sebagai tim yang “paling tertindas” dalam turnamen ini.

Baca Juga :  Jay Idzes: "Venezia adalah Langkah Pertama, Saya Ingin Menembus Liverpool!"

“Federasi Sepak Bola Iran percaya bahwa pembatasan ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip penyediaan kondisi yang setara bagi tim yang berpartisipasi dan dapat memengaruhi persiapan teknis mereka,” bunyi pernyataan resmi federasi pada Jumat (19/6/2026) saat mengumumkan protesnya kepada FIFA.

Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar dari Reuters terkait protes keras Iran tersebut.

Alasan Keamanan Versus Keadilan Lapangan

Jadwal ketat dan prosedur imigrasi yang kaku ini terbukti menguras fisik dan mental para pemain. Pelatih Amir Ghalenoei mengungkapkan bahwa gangguan logistik ini telah berdampak buruk pada performa anak asuhnya saat ditahan imbang 2-2 oleh Selandia Baru pada laga pembuka.

Menurut federasi, idealnya sebuah tim membutuhkan waktu untuk adaptasi cuaca dan atmosfer stadion demi performa terbaik.

“Berdasarkan rencana staf pelatih, tim nasional perlu melakukan perjalanan ke kota tuan rumah dua hari sebelum setiap pertandingan untuk mencapai kondisi teknis dan fisik yang optimal, dan kemudian kembali ke markas mereka sehari setelah pertandingan. Namun, untuk pertandingan pembuka melawan Selandia Baru, permintaan ini tidak disetujui,” jelas pihak federasi.

Baca Juga :  Tim Basket 3x3 Putri Indonesia Bukti Konsistensi, Bangkit dari Perunggu SEA Games 2023 ke Emas 2025

Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS bersikeras bahwa kebijakan super ketat ini merupakan langkah pencegahan keselamatan yang diklaim telah disepakati bersama dengan pihak Iran. Iran sendiri dijadwalkan menantang Belgia pada 21 Juni di Los Angeles, sebelum menutup laga Grup G melawan Mesir pada 27 Juni di Seattle.

“Tim akan diizinkan datang satu hari sebelum pertandingan, jadi sehari sebelum pertandingan. Mereka akan diminta untuk pergi pada hari pertandingan berakhir, jadi pada malam pertandingan,” tegas juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS melalui jawaban email kepada Reuters.

“Sekali lagi, Presiden ingin memastikan bahwa kita membicarakan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Sebagian besar dari itu adalah memastikan bahwa semuanya aman dan terjamin, tidak hanya di sekitar stadion, tetapi juga di sekitar kamp pelatihan dan tempat latihan.”

Sinyal Negosiasi di Seattle

Meski aturan tampak kaku, secercah harapan muncul dari Seattle menjelang laga antara Amerika Serikat melawan Australia. Direktur Gugus Tugas Piala Dunia Gedung Putih, Andrew Giuliani, mengisyaratkan adanya peluang untuk melunakkan aturan tersebut demi asas keadilan olahraga.

Baca Juga :  Eks Prajurit IDF Shuki Farage Tumbang di Octagon, Lawan Teriakkan Dukungan untuk Palestina

Kepada surat kabar Inggris The Telegraph, Giuliani menyatakan bahwa Washington membuka pintu untuk mendiskusikan kembali persyaratan masa tinggal skuad Iran di AS.

“Lihat, semuanya dinamis, hal-hal dapat didiskusikan tentang ini dan kami tentu ingin menciptakan permainan yang adil dan kompetitif di lapangan, itulah mengapa setiap pelatih di tim telah mendapatkan visa mereka, memiliki kesempatan untuk datang,” ujar Giuliani.

“Presiden ingin memastikan turnamen ini mencapai keseimbangan kompetitif, sekaligus memastikan pelaku jahat tidak masuk ke negara ini. Kami telah melakukan itu, dengan waktu satu bulan tersisa.”

Kini, bola panas berada di tangan FIFA dan otoritas AS. Di tengah peluit kick-off yang terus berbunyi, tim nasional Iran harus terus bertarung melawan dua hal sekaligus: lawan mereka di rumput hijau, dan rumitnya birokrasi di atas kertas.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id