Lumpuh 50 Hari, Bolivia Umumkan Status Darurat Militer demi Dobrak Blokade Massa

0
Bolivia
Ilustrasi bendera Bolivia.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, LA PAZ – Krisis politik dan ekonomi yang mencekik Bolivia memasuki babak baru yang kian genting. Presiden Rodrigo Paz resmi menetapkan status keadaan darurat nasional pada Sabtu (20/6/2026). Keputusan drastis ini diambil demi memberikan wewenang penuh kepada militer untuk turun ke jalan, membubarkan blokade massa, dan memulihkan ketertiban umum.

Langkah besi ini diambil hanya berselang beberapa jam setelah Presiden Paz mengumumkan tercapainya kesepakatan damai dengan serikat pekerja utama, Konfederasi Pekerja Bolivia (COB), pada Jumat malam. Alih-alih mereda, situasi di lapangan justru kian memanas setelah protes massa berhasil melumpuhkan urat nadi perekonomian negara selama 50 hari terakhir.

Baca Juga :  Jutaan Warga AS Siap Turun ke Jalan Protes Kebijakan Trump, Bruce Springsteen Turut Tampil

Dari Pemangkasan Subsidi hingga Kelangkaan Pangan

Ketegangan di Bolivia awalnya tersulut oleh kebijakan ekonomi Presiden Paz yang tidak populer. Berdasarkan laporan Reuters, konflik meletus setelah pemerintah secara mendadak memangkas subsidi bahan bakar yang telah berjalan lama.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya nekat untuk menekan defisit anggaran negara di tengah krisis dolar yang kian memburuk dan proses negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF).

Bagi warga Bolivia, kebijakan ini memicu efek domino yang mengerikan. Meski pemerintah kemudian mencoba meredam amarah publik dengan menstabilkan kembali harga bahan bakar dan membatalkan reformasi agraria yang kontroversial, nasi telah menjadi bubur.

Baca Juga :  Ketegangan AS dan Kuba Kembali Mengemuka Setelah Pertemuan Langka di Perbatasan Guantanamo

Gelombang protes telanjur membesar menjadi mosi tidak percaya yang meluas. Serikat pekerja kini tidak lagi sekadar menuntut pembatalan kebijakan ekonomi, melainkan menuntut kenaikan upah, penyelesaian instan atas kelangkaan bahan bakar dan dolar, hingga tuntutan tertinggi: mundurnya Presiden Paz dari kursinya.

Kota yang Terisolasi dan Truk yang Tertahan

Terasa dari potret kelumpuhan yang terjadi di jalur-jalur logistik utama Bolivia. Kelompok pengunjuk rasa yang mayoritasnya merupakan sekutu politik mantan Presiden sayap kiri Evo Morales membangun barikade kokoh di jalan-jalan protokol.

Baca Juga :  Presiden Prabowo: Ambisi Dua Periode Harus Disimpan dalam Hati, Fokus pada Kinerja

Akibatnya, ratusan truk pengangkut logistik terdampar di jalanan selama berminggu-minggu. Pasokan makanan membusuk di bak truk, sementara stok obat-obatan dan bahan bakar ke berbagai wilayah krusial, termasuk ibu kota pemerintahan La Paz, kini berada di ambang titik nol.

Deklarasi keadaan darurat ini menjadi senjata konstitusional terakhir bagi Presiden Paz. Melalui kebijakan ini, angkatan bersenjata memiliki legalitas hukum yang lebih luas untuk membersihkan barikade secara paksa, sebuah langkah yang dikhawatirkan banyak pihak dapat memicu bentrokan berdarah di jalanan Bolivia.***

Editor : Alysa

Sumber : kontan.co.id